<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0"><channel><atom:link rel="hub" href="http://tumblr.superfeedr.com/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"/><description>a life traveler who loves watching people. a writer who loves telling stories. a creature who loves laughing. | twitter: @windyariestanty | instagr: @windy_ariestanty | pinterest: windy ariestanty</description><title>~13~</title><generator>Tumblr (3.0; @windy-ariestanty)</generator><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/</link><item><title>mencari sebuah handuk</title><description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/e04267b7fe264f39e89dba9a64b0b62d/tumblr_inline_mmvytpwrTl1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Saya tak yakin, sekalipun penghuni satu jagat raya ini berbicara dengan bahasa yang sama, maka komunikasi akan baik-baik saja.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bahasa, bagi saya, hanya perangkat komunikasi. Diciptakan untuk memudahkan kita berkomunikasi. Namun, semakin saya sering traveling, semakin saya justru melihat, menguasai atau berbicara dengan bahasa yang sama tak menjamin kita bisa memahami lawan bicara dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Traveling mengajarkan saya, bahwa kunci utama dalam berkomunikasi adalah niat. Saya menyebut ini bahasa tertinggi makhluk hidup: niat untuk saling memahami. Bahasa ini tak memerlukan aksara, tidak juga suara. Hanya niat untuk saling memahami yang kemudian mendorong saya membuka diri terhadap siapa saja orang yang saya temui dalam perjalanan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya belajar ini dari seorang Kakek Australia dan Nenek Rusia yang berteman selama perjalanan mereka dari Vietnam ke Kamboja. Karena sering melihat mereka duduk berdua di perjalanan dan tampak seperti sedang asyik berbincang, saya menduga mereka awalnya pasangan. Namun, ketika bus kami berhenti untuk rehat dan makan siang, baru saya tahu, mereka berasal dari negara berbeda dan bukan suami-istri. Menariknya lagi, si Nenek yang berasal dari Rusia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana kakek-nenek ini bisa berteman dan mengobrol selama perjalanan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya pernah berpikir kalau saja saya menguasai semua bahasa di dunia ini, pasti akan sangat mudah berbicara dengan orang lain. Kalau tidak semua bahasa, setidaknya, saya harus pandai berbahasa Inggris yang notabene menjadi bahasa pergaulan dunia. Ternyata saya keliru. Menguasai banyak bahasa tak menjamin kita bisa dengan mudah berbicara dengan orang lain, apalagi sewaktu traveling.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya sempat senewen sewaktu traveling ke Seoul. Saat itu, saya pergi sendirian ke supermarket di dalam sebuah mall yang memiliki layar bioskop terbesar di dunia. Saya pikir, saya hanya perlu mencari handuk. Pasti mudah mencarinya. Namun, supermarket yang sangat besar dan petunjuk yang menggunakan huruf Hangeul membuat saya buta arah dan buta aksara bersamaan. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya mencoba bertanya ke pengunjung yang lain, apakah mereka tahu di mana saya bisa menemukan handuk. Tentunya saya menggunakan bahasa Inggris karena tak bisa berbicara bahasa Korea. Sayang, pengunjung itu tak bisa berbahasa Inggris. Mereka malah memanggilkan petugas toko yang melintas untuk membantu. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Petugas toko yang mengenakan celemek berwarna kuning memandang saya. ‘&lt;em&gt;I need towel&lt;/em&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;’ kata saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dia menjawab dengan bahasa Korea. Saya menggeleng. ‘&lt;em&gt;I can’t speak Korean. Do you speak English?&lt;/em&gt;’ Dia menggeleng, meminta saya mengikutinya. Saya dibawa ke bagian informasi. Pramuniaga toko menjelaskan ke petugas informasi, si petugas informasi yang murah senyum itu malah membawa saya ke kasir. Saya coba menjelaskan ke kasir, menyampaikan dengan cara yang sama dengan sebelumnya. Kasir hanya menggelengkan kepala dan sibuk melayani pembeli yang lain.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya dicuekin. Dang!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya kembali ke petugas informasi. Akhirnya, putus asa karena taka da satu pn dari kami saling memahami, ia dan pramuniaga toko membawa saya ke manajer supermarket. Saya tak pernah membayangkan untuk membeli sebuah handuk saja, saya harus digiring ke ruang manajer supermarket. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seorang lelaki berpakaian kemeja putih-putih dengan garis-garis krem vertikal mengangkat kepalanya dari layar laptop. Saya menduga, dia mengira saya salah satu pengunjung yang tertangkap basah mencuri sesuatu di supermarket ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Petugas informasi menyentuh siku saya sambil terus berbicara dengan bahasa yang semakin membuat kepala saya pusing. Saya mengartikan asal, ‘Ayo, coba sekarang jelaskan apa yang kamu mau.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;I just need a towel&lt;/em&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;’ kata saya mulai kelelahan dan berharap manajer ini mengerti ketika berdiri di depan mejanya. Saya capek dipingpong ke sana kemari. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Huh?’ mata si manajer membelalak. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;Yes, a towel.&lt;/em&gt;’ Saya mulai khawatir jangan-jangan &lt;em&gt;pronunciation&lt;/em&gt; saya salah tadi sehingga mereka tak mengerti. Atau saya bicara kecepatan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; ‘&lt;em&gt;Neeee&lt;/em&gt;…,’ sambungnya mengangguk. Saya mengembuskan napas lega. Di Korea, bila mereka mengatakan ‘&lt;em&gt;Neeee&lt;/em&gt;’ biasanya berarti positif, mereka mengerti atau tahu. Lalu, si manajer menggiring saya, diikuti dengan petugas informasi dan pramuniaga toko. Ketika melintasi lorong-lorong supermarket, pelanggan lain memandangi kami. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tibalah kami di sebuah rak. Si manajer dengan senyum tipis menunjuk ke arah rak dan memandang saya dengan wajah puas. Petugas yang mengekor di belakang saya dan pramuniaga pun tersenyum. Mereka senang masalah saya terpecahkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya hanya bisa melongo di depan deretan rak berisi panci dan ceret air.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Beberapa pengunjung supermarket mulai berkerumun, menontoni saya. Tentu saja terasa aneh melihat seorang pembeli harus digiring oleh petugas informasi, pramuniaga toko, dan manajer sekaligus untuk membeli sebuah barang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya menutup wajah saya dengan kedua telapak tangan. Saya mulai hilang kesabaran dan sangat ingin berteriak. Lalu, pelan-pelan, saya mengembuskan napas. Saya teringat dengan Nenek Rusia yang saya temui di perjalanan ke Kamboja. Tak bisa bahasa Inggris sama sekali tetapi berhasil menjelajahi negara-negara di Indochina seorang diri. ‘&lt;em&gt;Think, Windy. Think. Did you miss something? It should be easy!’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lalu, saya putuskan untuk berbicara pelan-pelan. Ini bukan salah mereka tak bisa memahami bahasa Inggris. Juga bukan salah saya yang tak bisa berbahasa Korea. ‘&lt;em&gt;I need a t-o-w-e-l&lt;/em&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;’ kata saya kepada petugas informasi, pramuniaga, manajer toko, dan pengunjung yang mengelilingi saya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mereka berpandangan. Baik. Saya yakin mereka semua niat menolong saya. Lalu saya membuat gerakan orang mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, berpantomim. Mereka tertawa. Barangkali, mereka mengira saya sedang melakukan pertunjukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;Anyone speak English here&lt;/em&gt;?’ tanya saya ke pengunjung. Mereka kembali saling berpandangan. Tiba-tiba dari balik punggung seorang lelaki, seorang perempuan mengangkat tangannya ragu-ragu. &lt;em&gt;‘Do you speak English&lt;/em&gt;?’ Saya ingin memeluknya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dia mengangguk ragu. ‘&lt;em&gt;Not good&lt;/em&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;’ ia menjawab lirih. ‘&lt;em&gt;Why didn’t you tell me you can speak English&lt;/em&gt;?’ Saya gemas. Perempuan itu dari tadi ada di sana. ia menyaksikan bagaimana saya berjuang dengan melakukan pantomim untuk membuat semua orang mengerti bahwa saya mencari handuk.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;Can you tell him I need a towel&lt;/em&gt;?’ &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;T…o…w…e…l…?&lt;/em&gt;’ Dia bertanya ragu. ‘&lt;em&gt;You know towel?&lt;/em&gt;’ Saya bertanya memastikan. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Spell,’ katanya. Saya pun mengeja kata &lt;em&gt;towel&lt;/em&gt;. Perempuan itu menulis sesuatu di tangannya. ‘&lt;em&gt;Ti-O-double u-Ei-eL… towel,&lt;/em&gt;’ ejanya mengikuti ejaan saya. Rupanya ia mengubah huruf latin itu dulu ke Hangeul. Saya membenarkan ejaannya. ‘&lt;em&gt;Neee&lt;/em&gt;!’ serunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lalu, perempuan itu menjelaskan ke manajer toko apa yang saya cari. Manajer toko menepuk jidatnya. ‘&lt;em&gt;Ne&lt;/em&gt;!’ Ia lalu menarik saya ke sebuah sudut. Semua orang mengekori kami. Dari kejauhan, saya melihat tumpukan handuk. ‘&lt;em&gt;Yes, that’s what I am looking for&lt;/em&gt;!’ sorak saya. Semua tertawa senang. Manajer pun riang. Masalah terpecahkan! Saya mengucapkan terima kasih ke perempuan yang telah menolong saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;Sorry, my English is not so good. I am not understand when you speak. You too fast&lt;/em&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;’ kata perempuan itu dengan bahasa Inggris terbata dan grammar yang kacau. Tapi saya tak peduli.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dia, dengan semua keterbatasannya, telah menolong saya. Saya merasa tersentil. Kadang, ketika saya merasa bisa, saya tak memberi waktu untuk diri saya memahami atau berempati kepada orang lain. &lt;em&gt;Subject learnt.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*** &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Apakah saya punya tip lain untuk ini? Tidak. Saya hanya perlu niat untuk bisa berkomunikasi dan memahami orang lain. Bahasa hanya alat pendukung. Tak ada satu teori pun yang bisa membuktikan, berbicara dengan bahasa yang sama akan menjamin kelancaran berkomunikasi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kamu masih suka salah paham, kan, ketika berkomunikasi dengan teman dekatmu? &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*) photo taken by @windyariestanty. location: seoul, south korea&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;**) been published in &amp;#8216;more magz&amp;#8217;, may 2012.&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/50568243956</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/50568243956</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 17:11:00 +0700</pubDate></item><item><title>Setiap Tempat Punya Cerita: STPC ALOUD!</title><description>&lt;a href="http://setiaptempatpunyacerita.tumblr.com/post/49996373091/stpc-aloud"&gt;Setiap Tempat Punya Cerita: STPC ALOUD!&lt;/a&gt;: &lt;p&gt;&lt;a class="tumblr_blog" href="http://setiaptempatpunyacerita.tumblr.com/post/49996373091/stpc-aloud"&gt;setiaptempatpunyacerita&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kamu sudah baca novel Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) GagasMedia dan Bukune? Itu, loh, cerita-cerita romantis yang membawa kita ke tempat-tempat indah di seluruh penjuru dunia. Nah, GagasMedia dan Bukune mengajak kamu berbagi keseruan, membacakan penggalan dari buku STPC dengan gaya unikmu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/50546741716</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/50546741716</guid><pubDate>Thu, 16 May 2013 09:15:53 +0700</pubDate></item><item><title>cerita tentang angin dan kilat</title><description>&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/a7fdf5012e984e8be8c6301eedbb7abe/tumblr_inline_mmop3kkK0N1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku tidak tahu harus memulai kisah ini dari mana. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ini kisah yang terus aku simpan karena khawatir akan menyakitkan. Akan melukai. Dan membuat satu per satu dari kami berjalan pergi menjauh. Memunggungi satu sama lain.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Namun, mungkin kalian menemukan kisah ini ketika sedang membaca sebuah majalah. Entah majalah yang mana. Mungkin majalah yang cukup gila berani menerbitkannya karena sudah tak ada lagi tulisan yang bisa dibuat sehingga terpilihlah kisah ini untuk dimuat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tapi, aku pastikan, kalian tetap tidak akan tahu siapa kami. Juga siapa aku. Ini tetap harus menjadi rahasia. Aku tak akan memberitahumu nama tempat. Juga tak akan memberitahumu nama kami yang sebenarnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Aku dan mereka yang aku ceritakan sepenuhnya asing. Anggaplah aku seperti seorang yang tiba-tiba bertemu denganmu di dalam gerbong kereta api, menjadi teman seperjalanan, dan menceritakan hal ini. Kau bahkan tak perlu tahu siapa kami yang sebenarnya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bersiaplah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ini kisah yang sangat sederhana. Tentang seorang perempuan yang jatuh cinta. Juga lelaki yang jatuh cinta. Ini kisah tentang jatuh cinta untuk pertama kali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tapi sesederhana apa pun sebuah cinta pertama, ia selalu istimewa bukan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*** &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dia menatap tajam dari arah bangkunya. Aku yang sedang berdiri di depan kelas menjadi semakin berkeringat dingin. Telapak tanganku terasa lembap. Ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Aku, si Murid Pindahan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Aku sempat merasa agak aneh. Di antara wajah-wajah khas penduduk asli pulau yang bermandikan sinar matahari—berkulit cokelat, berambut dan bermata hitam—ada seorang berambut pirang dengan mata biru. Ia tampak mencolok.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Anemoi,’ kataku memperkenalkan diri ketika guru memintaku menyebutkan nama. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Panggilannya?’ Guru berkacamata yang tingginya dua kilan di bawahku bertanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Moi.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Hanya dia yang kemudian mengacungkan tangan dan bertanya apa arti namaku. Yang lainnya sibuk berbisik tentang tinggi tubuhku yang menjulang. Untuk ukuran perempuan berusia 16 tahun, tinggi 170&amp;#160;cm kala itu terlalu tak biasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Dewa Angin dalam kepercayaan Yunani.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Mata kami berserobok. Dia tak berusaha mengalihkan. Aku semakin panas-dingin. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namanya Kilat. Anak orang asing yang jatuh cinta dengan desa kecil di pulau ini, kemudian secara spontan memutuskan menetap. Waktu itu, Kilat masih berada di dalam kandungan ibunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Katanya, ketika lahir, hujan deras dan angin bertiup sangat kencang. Kilat menyambar disusul suara petir. Bersamaan dengan gelegar itu ia lahir, dibantu dukun setempat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tak butuh waktu lama, entah kenapa, kami cepat akrab. Kilat supel, walaupun kadang sifat argumentatifnya suka membuatku ini membenturkan kepalanya ke dinding agar diam sebentar. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kenapa kamu tidak sekolah di sekolah internasional yang ada di kota?’ tanyaku sambil memakan es lilin yang kami beli dari warung di pojok jalan. Sore itu kami habis bermain layangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Orangtuaku takut aku jadi sombong. Mereka tak ingin aku menjadi seperti orang-orang asing yang banyak ada di sini,’ katanya dengan bahasa Indonesia yang bagus. Aku manggut-manggut. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kilat kerap memanggil aku dengan sebutan ‘City Girl’. Gadis Kota yang kikuk lantaran setiap kali ia mengajak bermain ke sawah, aku nyaris selalu terpeleset. Ia juga mengenalkan aku kepada saudara laki-lakinya y&lt;span&gt;ang lain, bernama Fūjin. Fūjin setahun lebih tua dari Kilat, h&lt;/span&gt;asil dari pernikahan terdahulu, antara ayahnya dengan seorang perempuan Jepang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Aku tak suka dipanggil ‘City Girl’, tetapi mau bagaimana lagi, aku memang berasal dari sebuah kota besar yang gemerlap dan sibuk.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Seperti takdir. Fūjin juga berarti dewa angin. Dia bahkan dewa tertua dalam kepercayaan Shinto. Dan kami bertiga adalah sahabat karib. Fūjin yang berwajah campuran Asia-Eropa, dan Kilat&lt;span&gt; yang sangat Kaukasian. Lalu aku yang berkulit cokelat dengan rambut keriting.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Setiap sore, sehabis pulang sekolah, keduanya selalu mengajakku bermain. Mulai dari sekadar berlari di pematang sawah menuju sungai kecil tempat mereka suka memancing, naik motor ke pantai menunggui mereka surfing, hingga ke lapangan bola ber&lt;span&gt;main sepak bola. Kakiku sering biru lebam. Berbeda dengan Kilat yang kerap mengolok-olok, Fūjin&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; malaikat pelindungku. Setiap kali aku terpeleset atau nyaris jatuh, tangannya yang selalu terulur duluan. Kilat, justru akan mencemooh dengan mengatakan, ‘Dasar Cewek Kota!’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Rese lo!’ sahutku sambil menggenggam tangan Fūjin. Aku suka muka Fūjin yang lonjong dengan sepasang mata &lt;/span&gt;sipit yang dinaungi alis tebal. Rambutnya juga dibiarkan panjang dan kerap diikat satu ke belakang. Sekolah kami tak memiliki aturan harus berambut panjang atau pendek. Kami bebas, kecuali urusan pakaian seragam. Katanya, biar tak saling cemburu. Ada baiknya begitu, pikirku. Tapi Kilat tak suka seragam. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Seragam tak cukup meredam kecemburuan sosial! &lt;em&gt;That’s bullshit&lt;/em&gt;!’ Kalau&lt;span&gt; sudah berdebat, Fūjin dan Kilat bisa sangat seru. Aku hanya akan melemparkan pandangan &lt;/span&gt;mengantuk lalu mulai menggambar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;Hey you, City Girl&lt;/em&gt;!’ Ia menarik rambut panjang keritingku. Aku yang sedang duduk di tepi pantai menunggui dia surfing mengibaskan tan&lt;span&gt;gan kesal. Hari ini Fūjin tak ikut. Dia sedang berlatih silat. Kilat terkekeh&lt;/span&gt; melihat muka jutekku. Semakin dikibaskannya air laut yang membasahi rambutnya ke wajahku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kenapa sih ganggu mulu?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Suka.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dadaku berdesir. Kilat malah nyengir. ‘Kamu nggak suka ya?’ Aku pura-pura tak mendengar dan berkonsentrasi pada kertas gambarku. Tak tahu diri, ia malah mendekatkan wajahnya. ‘Suka aku?’&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Aku merasa mukaku memanas. Kilat tak pernah seusil ini. Ini bukan pertama kalinya ia keluar berdua denganku. Memang, kami lebih kerap bertiga. Dia masih cengengesan, lalu tiba-tiba ditariknya lagi rambutku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Jalan ke sana yuk!’ Ia menunjuk ke arah karang. Alisnya terangkat satu ketika dilihatnya aku bergeming. ‘&lt;span&gt;Takut tergelencir karena nggak ada Fūjin?’ Rambut pirangnya &lt;/span&gt;bersinar keemasan terkena sinar matahari. Sesaat, aku terpana. Perasaan panas-dingin di awal pertemuan mendadak muncul. ‘Ngeremehin kamu. Aku udah makin jago.’ Aku membuang muka. Berusaha menetralisir. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘&lt;em&gt;I will take care of you&lt;/em&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;’ Ia tiba-tiba meraih tanganku, berjalan di depanku dengan tangan kiri terulur ke belakang, mengandeng tangan kananku. Jantungku berlompatan. Kilat tak pernah seperti ini. Aku terbiasa dengan sikap cueknya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tangan kilat terasa hangat sekaligus basah. Butir-butir pasir pantai menempel di sepanjang tangan dan kakinya. Kulitnya terlihat lebih gelap. Ia bangga sekali dengan warna kulitnya. Namun, sering pula ia menggerutu karena bila lama tak surfing, warna kulitnya kembali ke asal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Berdua kami mendaki karang. Sesekali ia menoleh ke belakang. Tersenyum simpul ketika melihat ke tangan kami yang tetap bergandengan. Aku jengah, namun ada perasaan hangat menelusup di antara degup jantung yang berlompatan. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami sampai di puncak karang. Samudra terhampar. Di ujung sana, kaki langit bertemu tepi laut. Gemuruh terdengar. Aku dan Kilat melihat ke angkasa. ‘Mungkin sebentar lagi hujan,’ katanya sambil melepaskan genggaman.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Bukannya mengajak turun, Kilat malah duduk. Aku mengikutinya. Bau laut memenuhi penciuman kami. juga samar bau air. Langit tertutup awan kelabu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tiba-tiba Kilat mengambil sejumput rambutku. ‘Aku suka hari ini. Aku selalu ingin mengulurkan tanganku setiap kali kamu nyaris jatuh terpeleset.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Aku memandang ke arah kilat. Mata biru terlihat seperti kaca. Kilat tak suka warna matanya. Dia bilang, warnanya membuat orang bisa menebak isi hatinya. Kilat tak tahu, aku tak pernah bisa menerka isi hatinya ketika melihat ke sepasang mata birunya selama ini. Mendadak tangan Kilat terulur menyentuh pipiku. Sentuhan itu mengirimakn gelenyar tak terkendali. Mendadak, aku merasa kami seperti menyatu. Waktu seolah membeku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Sebuah teriakan menyadarkan kami. Di tepi pantai, di bawah karang sana, Fūjin melambaikan tangannya. &lt;/span&gt;Latihan silatnya sudah selesai, ia menyusul rupanya. Kilat tersenyum. Tangannya menjauh dari pipiku. Ia berdiri dan berteriak ke arah saudara laki-lakinya. ‘Siniiii!!!!’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tak ada percakapan lagi di antara kami. Perlahan, jarak tak terlihat itu terbentang. Selarik cahaya berkelebat dengan cepat di langit. Kilat menyambar disusul bunyi petir. &lt;span&gt;Rintik hujan turun ketika Fūjin sampai di tempat kami. Aku bergegas hendak berdiri ketika melihat sebuah tangan terulur. Tangan Fūjin. Kemeja&lt;/span&gt; kotak-kotak yang dikenakannya berpindah menutupi kepalaku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Let’s run&lt;/em&gt;!’ teriak Kilat. Ia berlari gesit menuruni karang, meninggalkan &lt;span&gt;aku dan Fūjin. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Sialan tuh, anak!’ rutuk Fūjin. ‘&lt;span&gt;&lt;em&gt;Don’t run, &lt;/em&gt;Moi&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;’ &lt;/span&gt;Aku menuruni karang dengan tangan Fūjin menggandeng tanganku. Ketika tiba di bawah, serentak &lt;span&gt;kami mengejar Kilat yang tertawa meledek. ‘Dasar Cewek Kota!’ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketika berhasil mengejar Kilat, &lt;span&gt;Fūjin menoyor kepala &lt;/span&gt;saudaranya lalu lari secepat kilat menuju tempat berteduh. Aku dan Kilat tertinggal. Dengan gerakan tak kentara, ia&lt;span&gt; menyentuhkan tangannya ke tanganku yang menjadikan kemeja Fūjin s&lt;/span&gt;ebagai payung. Sekian detik, kembali waktu berhenti ketika kulit kami saling bersentuhan. Mata biru itu berbicara banyak. Dia benar, mata itu jendela hatinya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kilat berlari mengejar Fūjin. Keduanya &lt;/span&gt;berkejaran, tertawa dan saling pukul di bawah hujan. Dari kejauhan aku menyaksikan pemandangan itu. menyaksikan kilat dan angin saling melengkapi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Maka, kuputuskan untuk diam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak pernah ada sepatah kata cinta pun terucap dari mulut kami bertiga. Kami hanya saling memandang. &lt;span&gt;Fūjin dan Kilat tetap suka menge&lt;/span&gt;ncani perempuan yang berbeda. Aku tetap duduk di antara mereka, mendengarkan semua kisah cinta mereka. Sesekali mereka menyelidik tentang lelaki yang mengajakku keluar. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tangan Fūjin tetap terulur. Dan di belakang punggungnya, tanganku dan Kilat kadang be&lt;span&gt;rgandengan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Naik kelas dua, orangtuaku dipindahkan. Aku pergi dari desa kecil itu.. Kadang, aku terkenang kepada mereka dan kerap berdesir ketika merasakan angin dan melihat kilat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Begitulah kisah cinta pertamaku berakhir dalam diam. Dan memang begitulah orang yang jatuh cinta sendirian. [13]&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*)photo taken by @windyariestanty. location: lovina, bali&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;**) been published in aneka magz (2012)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/50251510770</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/50251510770</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 18:58:00 +0700</pubDate></item><item><title>kisah sebatang cokelat: sebuah rasa dari masa kecil</title><description>&lt;p&gt;&lt;div&gt;&lt;span&gt;Waktu kecil, saya suka sekali makan cokelat. Sangat suka sehingga setiap kali ada teman papa atau mama datang, atau siapa pun yang bertamu ke rumah, kerap membawakan saya oleh-oleh berupa cokelat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebatang cokelat itu saja sudah membuat saya senang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya ingat, cokelat kegemaran saya waktu itu adalah Van Houten. Saya tidak tahu dengan jelas, kenapa saya begitu kecanduan merek cokelat asal Negeri Kincir Angin itu. Padahal, kalau dibandingkan dengan cokelat yang saat ini beredar di pasaran, rasanya tak ada beda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/a31d3dcfd520005c3ee5948a08409766/tumblr_inline_mm3vbrPu2I1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Van Houten polos tanpa kacang mete atau raisin atau almond. Hanya cokelat. Tak perlu banyak rasa. Sebulan sekali—selain mengandalkan buah tangan tamu yang bertandang—kakek saya selalu membawa saya ke Pasar Cinde, Palembang. Itu pasar tradisional terbesar di Palembang. Segalanya ada di situ. Alat tulis, mainan, dan makanan. Pusat aktivitas Kota Palembang, sebelum kemudian pasar yang lebih modern menenggelamkannya, menggantikannya dengan aktivitas yang tak perlu mengenal tanah becek karena hujan atau bau amis ikan dan daging yang menguar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pasar Cinde punya sejuta kenangan buat saya. Saban kakek saya pergi mengambil pensiunnya sebulan sekali, ia selalu mengajak saya ke pasar itu. Sebatang cokelat Van Houten polos, sekotak kue Holland, dan sepaket pensil warna atau alat tulis, akan berpindah ke tas saya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kakek saya seorang yang ramah. Tinggi, kurus, murah senyum, dan suka menyapa semua orang. Bahasa Inggrisnya lancar bukan main. Ke mana pun dia pergi, selalu ada kamus saku bahasa Inggris di kantongnya. Ia sering sekali mengajak saya bicara dalam bahasa Inggris. Waktu kecil, saya tak paham dia bicara apa. Dia selalu menuliskannya di buku catatan saya dengan pensil warna yang dibelikannya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karena kakek saya, saya suka mengamati hiruk pikuk pasar. Ia menggandeng tangan kecil saya. Mengajak saya menyusuri setiap lorongnya. Menunjuk ini dan itu, lalu akan bertanya, ‘Wendy, &lt;em&gt;nak apo&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;?’ Wendy. Ya. Wendy bukan Windy. Dialah satu-satunya orang yang memanggil saya seperti itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan saya akan memulai menunjuk, apa saja yang saya mau. Namun, belanjaan tetap yang akan selalu saya dapatkan tanpa perlu meminta adalah sebatang cokelat Van Houten dan sekotak roti Holland.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kakek saya pun penggemar cokelat. Pulang dari pasar, dia akan duduk di kursi di teras rumah, membuka cokelat, dan membaca koran hari itu. Saya akan duduk di dekat kakinya, membuka cokelat, dan mengeluarkan buku gambar saya. Ia akan membacakan koran keras-keras agar saya mendengar. Saya akan sibuk menggambar. Biasanya gambar apa saja yang saya lihat di pasar hari itu. Selesai membaca koran, dia akan membuka kamus bahasa Inggris-nya lalu mulai membaca. Begitulah selalu. Tentunya, sambil kita berdua memakan cokelat.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;Sebatang cokelat Van Houten polos selalu melemparkan saya ke masa kecil. Rasa kanak-kanak yang manis. Yang hangat. Terlebih lagi, yang membuat saya selalu terkenang pada sosok yang begitu lekat. Kakek saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;Semua orang bilang saya mirip dia. Tinggi, kurus, berkulit cokelat, dan bermata cokelat. Suka makan manis, lebih memilih makan roti daripada nasi, penggemar cokelat dan permen. Tak suka obat. Tak suka pahit. Suka menggambar. Suka menulis di catatan harian. Saya rasa, kebiasaan saya membaca kamus pun keturunan dari dia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan dia pandai bercerita. Selalu membuat saya tergelak-gelak dengan komentarnya. Bicaranya ceplas-ceplos. Tanpa tedeng aling-aling. Straight to the point. Suka bilang suka. Jelek bilang jelek. Kadang komentarnya juga sarkas. Tapi menurut saya, dia orang paling jujur di muka bumi ini. Saya sungguh memujanya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dialah juga yang memberi nama saya Windy. Tapi, dia pulalah satu-satunya orang yang memanggil saya ‘Wendy’. Lafalkan ‘i’ menjadi ‘e’ dalam konteks bahasa Inggris. Dia satu-satunya orang yang patuh pada aturan itu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya merindukan cara dia memanggil nama saya. Selalu dilagukan.&lt;br/&gt;‘Weeendy! Apo kato koran hari ini?’ tanyanya pada saya ketika saya sudah duduk di bangku kuliahan dan memutuskan setahun kuliah di Universitas Sriwijaya. Waktu bergulir. Dulu dia yang rajin membacakan koran untuk saya. Sekarang, tugas sayalah yang membacakan berita untuk dia. Tak ada yang berubah dengan kegemarannya yang lain. Ia masih suka mengambil buku sketsa saya, lalu ikut menggambar di situ.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sampai kemudian ia jatuh sakit. Saya sudah tidak lagi berkuliah di Palembang. Sibuk mengejar ambisi sendiri. Berlari. Hari itu, saya memutuskan pulang ke Palembang untuk menjenguknya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dia tergeletak di ranjang rumah sakit. Tubuh kurusnya dibalut selimut. Jarum infus menikam urat di lengannya. Sama seperti dia, saya tak pernah suka bau rumah sakit. Saya rasa, dia pun tak pernah berharap masuk rumah sakit. Saya tahu dia tak betah. Ketika sadar saya datang mendekat, ia mengangkat tangannya. ‘Aaah, Wendy datang!’&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;‘Iya.’ Saya menjawab lirih sambil memegang tangannya. Meyakinkannya kalau saya memang ada di situ.&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;Naik apo kau? Dak kuliah&lt;/em&gt;?&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;’&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;Idak&lt;/em&gt;,&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;’ jawab saya.&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;How are you, Wendy&lt;/em&gt;?’ tanya dengan logat Inggris yang sempurna.&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;Fine&lt;/em&gt;.’&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;I am fine, Wendy. Jangan disingkat&lt;/em&gt;.’ Koreksinya.&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;Yes, I am fine, Granpha&lt;/em&gt;.’&lt;br/&gt;‘&lt;em&gt;That’s good.&lt;/em&gt;’&lt;br/&gt;Dia mengambil sesuatu dari balik kantongnya. Kamus saku bahasa Inggris. Sampulnya yang dulu berwarna merah sudah tak ada. Kertas yang dulu putih kini menguning. Usang. Seusang usianya dan umur saya yang meranjak matang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;‘Bacakan kamus ini untukku. &lt;em&gt;Susternyo dak paca&lt;/em&gt;k &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;diajak ngomong Inggris,’ pintanya. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Saya menerima kamusnya. Itu kamus yang sama dengan ketika saya masih kecil dulu. Bahkan, saya menemukan coretan tulisan saya yang masih jelek. Olehnya, tulisan itu dilingkari spidol merah dan diberi keterangan&amp;#160;: ‘&lt;em&gt;Tulisannya Wendy&lt;/em&gt;’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br/&gt;Saya mengembuskan napas. Satu hari di masa kecil saya, dia meminta saya menulis tulisan dalam bahasa Inggris, ‘&lt;em&gt;My name is Wendy&lt;/em&gt;’. Betapa dia dan saya terperangkap dalam kapsul waktu milik kami untuk sesaat.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;‘&lt;em&gt;Kau bawaken aku apo, Wendy, dari Jawo&lt;/em&gt;?&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;’ Setelah setahun kuliah di Palembang, saya memutuskan pindah kuliah ke Universitas, Brawijaya, Malang.&lt;br/&gt;‘Cokelat. Van Houten dan sekotak kue Holland. &lt;em&gt;Yek nak makannyo&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;?’&lt;br/&gt;‘Cokelat &lt;em&gt;bae&lt;/em&gt;. Tapi, kau sambil &lt;em&gt;baco&lt;/em&gt; kamus terus &lt;em&gt;yo&lt;/em&gt;?&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;’ Saya mengangguk. Membuka bungkusan cokelat dan mengmabil kamus dari tangannya, lalu mulai membaca.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Siang itu, seharian saya habiskan di rumah sakit. Bertahan mencium bau rumah sakit yang tak saya suka dan bau obat yang keluar dari sekujur tubuh kakek saya. Entah, kapan, saya jatuh tertidur di samping tempat tidurnya. Dengan tangan telengkup menyanggah kepala saya. Ketika bangun, saya merasakan tangan kakek saya ada di kepala. Mengelus rambut saya. Dan, lirih saya dengar, suaranya yang terus membaca kamus dengan lafal terpatah-patah. Sepertinya, ia kesulitan bernapas.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya menyayangi dia. Buat saya, dia adalah orang yang berbagi begitu banyak kenangan dengan saya. Berbagi banyak hari. Berbagi banyak kemiripan. Berbagi banyak rahasia. Berbagi banyak luka.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;Dan berbagi banyak cinta.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;Sampai kemudian, ia meninggalkan saya. Ia meninggal dalam tidurnya. Bukan di rumah sakit. Tapi di rumah, di kamarnya sendiri. Kabar itu saya terima lewat telepon. Semua orang berhati-hati menyampaikannya kepada saya. Tapi, saya tak sekaget yang mereka duga. Jauh sebelum itu, ia telah berpamit pada saya. Berbisik pada saya bahwa ia harus ‘pulang’, namun bukan berarti menghilang. Ia hanya tak berada bersama saya lagi dalam satu dimensi waktu dan ruang. Ketika saya kangen padanya, ia menjelma jadi kenangan. Yang manis. Semanis cokelat Van Houten. Yang harum. Seharum bau roti Holland.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Namun, entah sejak kapan, saya tak lagi suka cokelat dan permen. Tak lagi gandrung roti Holland. Dan berhenti menggambar. Sebatang cokelat tak lagi bisa membuat saya tersenyum manis. Sekotak roti Holland tak bisa membuat saya tertawa lebar.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sebatang cokelat tak lagi bisa membuat saya senang.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hingga hari kemarin. Di sebuah kota yang kita sebut Jakarta.&lt;br/&gt;Ketika saya sedang menyusuri lorong-lorong di sebuah pasar modern yang tak mengenal becek karena berlantai porselen. Saya berhenti di sebuah rak. Sebatang cokelat Van Houten tergeletak di situ. Hanya sebatang. Cokelat merek sejenis tampaknya habis. beberapa saat saya terdiam, sebelum kemudian memutuskan meraihnya. Menciuminya. Berharap, ada aroma Van Houten yang saya kenal ketika masih kecil. Sekejap, semua kisah itu menyeruak. Wajah kakek saya terbayang di benak. Senyum lebarnya dan suara khasnya ketika memanggil nama saya, “Weendy!’ seolah berdengung.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;Sebuah rasa masa kecil.&lt;br/&gt;Hangat.&lt;br/&gt;Penuh cinta.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;Dan saya berdiri tercenung sambil tersenyum di depan rak itu. Sibuk menciumi sesuatu. Saya terkenang pada perasaan senang karena sebatang cokelat Van Houten.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan saya ingin berbagi. Berbagi rasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;Refleks saya mengambil sembilan cokelat merek lainnya. Bukan merek Van Houten karena hanya tersisa satu. Sembilan cokelat tak polos, ada campuran kacang dan raisin. Maksud hati, ingin membelikan dark chocolate untuk mereka. Sayang, ternyata, harga cokelat hitam lebih mahal dari cokelat biasa. Padahal, konon rasa cokelat hitam lebih pahit. Namun, untuk alasan kesehatan cokelat ini lebih baik.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;br/&gt;Saya tersenyum kecil. Kali ini bukan karena cokelat. Tapi karena teringat dengan ledekan para anak ayam. Mereka suka mengistilahkan saya sebagai dark chocolate. Orang yang nggak punya sisi manis. Nggak selembut marshmallow. Lalu, kalau memang dark chocolate nggak selezat dan selembut itu kenapa harganya lebih mahal?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya lantas sok berfilosofis. Jadi filsuf yang membahas tentang rasa pahit pada dark chocolate. Well, ibaratkanlah ini sebuah kehidupan. mungkin, karena sebuah kepahitan, seorang jadi bisa menghargai rasa manis. Untuk bisa merasa bahagia, ia harus melampaui apa yang disebut sedih dan kesakitan itu sendiri. Karena itulah ia menjadi orang yang tahu apa itu bahagia. Tahu apa itu cinta. Tahu apa itu kehilangan. Tahu, bahwa semua rasa ‘pahit’ itulah yang meninggalkan manis di ujung lidah. Selalu ada harga untuk segala sesuatu. Dan itu yang paling mahal&amp;#160;: proses.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya hanya ingin membagi rasa cinta yang saya kenal kepada sembilan orang kawan saya di GagasMedia. Orang-orang yang belakangan ini sangat saya sadari, memperhatikan saya. Berusaha memahami saya. Namun, kerap kali saya kecewakan dengan sikap acuh saya. Mungkin, justru saya yang tak mengizinkan mereka mengenal saya. Mungkin, bukan saya yang tak punya ruang, namun saya yang enggan membuka ruang. Di bungkus cokelat itu, saya tempelkan sebuah pesan untuk mereka: ‘&lt;em&gt;Ternyata harga dark chocolate lebih mahal….-13&lt;/em&gt;’&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lewat cokelat beserta pesan itulah saya ingin membagi apa yang saya rasakan dengan mereka. Membiarkan mereka bertandang ke teras hati saya. Melihat dan mencicipi cinta a la saya. Tak mewah. Kecil dan sederhana saja. Rasa cinta yang begitu abadi, antara saya dengan seorang. Sebuah rasa dari masa kecil saya. Tentang dia. Seorang lelaki yang saya panggil, ‘Yek&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;’.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dan mungkin, itu pula rasa cinta saya kepada mereka.&lt;br/&gt;Tak besar. Kecil saja. Tapi abadi. Seperti kuku jari. Selalu tumbuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&amp;#8212;-&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;em&gt;*) tulisan yang ditemukan di blog lama. diunggah pada 21 februari 2008.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;em&gt;**) image taken from getty images.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;br/&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[1]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘Wendy, mau apa?’—bahasa Palembang.&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[2]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘Naik apa kamu? Tidak kuliah?’&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[3]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘Tidak.’&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[4]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘…Susternya tidak bisa….’&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[5]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘Kau bawakan aku apa, Wendy, dari Jawa?’&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[6]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘…Yek mau makannya?’ Yek adalah panggilan saya untuk kakek saya.&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[7]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt; ‘Cokelat saja. Tapi, kamu sambil terus bacakan kamusnya, ya?’&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4975801006536661183#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;[8]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt; ‘Kakek.&lt;/span&gt;’  &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/49342324308</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/49342324308</guid><pubDate>Wed, 01 May 2013 13:04:00 +0700</pubDate></item><item><title>neil-gaiman:

mariadahvanaheadley:

BEASTS OF THE DEVIL - Maria...</title><description>&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/b4d3ce08957033299a256e5ad547b71d/tumblr_ml5jjyShVn1rwpzb0o1_500.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://neil-gaiman.tumblr.com/post/48307398342/mariadahvanaheadley-beasts-of-the-devil-maria" class="tumblr_blog"&gt;neil-gaiman&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;a class="tumblr_blog" href="http://mariadahvanaheadley.tumblr.com/post/48291877253/beasts-of-the-devil-maria-sybilla-merian-lizard"&gt;mariadahvanaheadley&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;BEASTS OF THE DEVIL - Maria Sybilla Merian, &lt;span class="Apple-style-span"&gt;Lizard from “Metamorphasibus Insectorum Surinamensium”, 1705. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Look at the date. 1705. Yes, thank you. Maria Sybilla Merian (1647-1717) was a fabulous naturalist and scientific illustrator. Everything she did was beautiful, but also odd. The above lizard, for example? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;In her time, insects, her particular interest, were viewed as “beasts of the devil”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Merian was intrigued by metamorphosis, beginning with butterflies, and moving on to life stages of insects, with a lot of side interest in lizards, and various other creatures. Her early work was often used as patterns for embroidery - but clearly, she was interested in science as well as beauty.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img alt="image" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-TT4Wx9QD7CI/UH9BVemWAUI/AAAAAAABJdA/LAmN73ajDTo/s1600/Maria+Sibylla+Merian+(German+artist,+1647-1717)+Branch+of+guava+tree+with+leafcutter+ants,+army+ants,+pink-toed+tarantulas,+c.+1701-5.jpg" width="506"/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;-  &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;em&gt;Branch of guava tree with leafcutter ants, army ants, pink-toed tarantulas&lt;/em&gt;, c. 1701-5&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Daughter to Matthaus Merian the Elder, who was a noted Swiss engraver and publisher, she was also stepdaughter to Jacob Marrel, a still-life painter. Clearly, both traditions moved through her work. When she was eleven, she engraved her first copperplate for illustration.  She married her father’s apprentice in 1665, when she was 18, and had two daughters with him. (Though interestingly, she seems not to have ever changed her surname.)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;img alt="image" height="376" src="http://2.bp.blogspot.com/-Qw7W7bsG3vg/UV1LZ71iIEI/AAAAAAABdQ4/Ak0ANk8q1uw/s1600/maria.jpg" width="575"/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;- &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Surinam Caiman Fighting a South American False Coral Snake 1699-1703 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;In 1686, she moved to the Netherlands with her mother and daughters, and in 1690 divorced her husband. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;In 1699,  the now 52-year-old Merian - having  resided in the home of the Governor of the Dutch colony of Suriname and observed his tropical specimens (I have no idea quite how this happened - was there romantic involvement? Maybe?) Merian sold most of her belongings in order to travel to Surinam with her youngest daughter Dorothea. The result was the extraordinary Metamorphasibus Insectorum Surinamensium. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;She says - rather amusingly, given her clear passion for same:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;div class="section"&gt;
&lt;div class="section"&gt;
&lt;div class="layoutArea"&gt;
&lt;div class="column"&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;“So I was goaded to undertake a huge and costly trip, traveling to Suriname in America, a hot and humid land where swarms of insects are there for the capture.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;She spent two years in Surinam, before returning to the Netherlands due to malaria. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="section"&gt;&lt;img alt="page1image10736" height="0.540000" src="file:///page1image10736" width="234.000000"/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="section"&gt;&lt;img alt="page1image11008" height="0.540000" src="file:///page1image11008" width="133.020000"/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="section"&gt;After Merian’s death in 1717, her daughters continued to produce fabulous work in the entomological field. Six plants, nine butterflies, and two beetles bear her name. &lt;/div&gt;
&lt;div class="section"&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="section"&gt;See &lt;a href="http://www.getty.edu/news/press/merian/merian_revised_short_lead_release_lh_final.pdf"&gt;this catalog from the Getty Museum’s 2008 Exhibition of Merian’s work. &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="section"&gt;And more biographical information &lt;a href="http://www.cuchicago.edu/Documents/Academics/College%20of%20Arts%20and%20Sciences/art/Art%20Lessons/2nd_10_Maria-Sibylla-Merian_Pineapple-Citron.pdf"&gt;here&lt;/a&gt;. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;So beautiful…&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/48391862498</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/48391862498</guid><pubDate>Sat, 20 Apr 2013 06:32:07 +0700</pubDate></item><item><title>cherokee, perjalanan kembali ke masa lalu</title><description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;“Welcome… I will tell you a story. A very old story….”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;KALIMAT itu diucapkan oleh seorang lelaki tua Indian. Ia tiba-tiba muncul di hadapan saya yang tengah berdiri di depan api unggun, di sebuah gua kecil. Lelaki itu mengenakan pakaian tradisonal Indian yang terbuat dari kulit binatang dan tanaman rami. Tangan kanannya memegang tongkat. Matanya yang tajam, lurus menatap ke arah saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Ia bercerita pada saya, tentang sebuah legenda yang telah hidup beratus-ratus tahun lalu. Legenda suku Indian, penduduk asli Amerika. Suara beratnya terdengar bijak ketika bertutur. “&lt;em&gt;After this, you will know who the Cherokee are&lt;/em&gt;…,” kemudian ia melangkah pergi. Perlahan, nyala api unggun pun meredup. Dan gua itu kembali gelap. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/4d9ad9be09905fe1559634db7f6f4adc/tumblr_inline_mkza4xwmGa1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Suku Indian Cherokee menyebut lelaki tua itu &lt;em&gt;The Old Medicine Man&lt;/em&gt;. Saya bertemu dengannya di awal langkah kaki memasuki Museum of The Cherokee Indian, Cherokee Indian Reservation, North Carolina (NC). Anda pun akan bertemu dengan lelaki Indian tua ini bila mengunjungi museum yang terletak di US 441 and Drama Road, Cherokee, NC. Ia adalah sebuah hologram yang menjadi pembuka petualangan pengunjung kembali ke masa lalu. Di museum ini, sejarah tak hanya didengungkan oleh benda-benda purbakala. Sejarah perjalanan suku Indian Cherokee dalam bentuk hologram, audio visual, replika, dan patung-patung lilin seolah mengantarkan kita memasuki gerbang masa lalu. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Suku Indian Cherokee telah hidup di Amerika jauh sebelum penjajah kulit putih pertama datang ke Amerika. Legenda Cherokee menceritakan bagaimana Bumi dibentuk oleh seekor elang besar. Elang ini terbang rendah di atas tanah yang baru terbentuk dan mengeringkan tanah yang masih basah dengan sayapnya. Ia menekan permukaan tanah untuk menciptakan lembah dan menaikkan bukit serta puncak pengunungan The Great Smokey. Kemudian muncullah dua orang manusia di Bumi. Mereka adalah Kananti dan Selu, lelaki dan perempuan pertama. Seluruh suku Indian Cherokee adalah anak dari kedua manusia pertama ini. Legenda ini konon menggambarkan bagaimana hubungan antara perasaan orang-orang Cherokee terhadap tanah mereka. Tanah mereka adalah bagian dari jiwa mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/d5d0eae85e2f31374d6a1c1ad565d6f1/tumblr_inline_mkzaduDZjj1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika Revolusi Amerika (1775-1783) yang merupakan peperangan antara Inggris melawan Koloni Amerika berakhir, para pemukim kulit putih meminta agar suku Indian Cherokee memberikan sebagian tanahnya pada mereka. Hal ini menimbulkan peperangan baru. Seribu kota milik Indian Cherokee rusak. Akhirnya, Indian Cherokee memutuskan untuk memberikan sebagian tanah mereka. Pemberian tanah ini ditukar oleh pemerintah US dengan janji akan selalu melindungi suku-suku asli Amerika ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di bawah pemerintahan Presiden Washington, suku Indian Cherokee hidup berdampingan secara damai dengan kaum kulit putih. Mereka mulai mengadopsi struktur politik dan ekonomi kaum kulit putih. Suku Indian Cherokee juga kemudian membentuk sebuah pemerintahan republik yang bernama The Cherokee Nation.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Peradaban yang semakin maju juga ditandai dengan diciptakannya alphabet Cherokee oleh Sequoyah pada tahun 1821. Kebudayaan Indian memang lebih mengutamakan bahasa tutur, yang mana penceritaan dongeng dan mimpi sangat dijunjung tinggi. Karena itulah Sequoyah berusaha menciptakan alphabet yang dapat mengembangkan bahasa Cherokee. Setiap simbol dalam alphabet yang terdiri dari 86 karakter mewakili satu suara dalam bahasa Cherokee. Cherokee dalam bahasa suku Indian Cherokee disebut dengan &lt;em&gt;Tsalagi &lt;/em&gt;(baca: &lt;em&gt;Ja la gee&lt;/em&gt;). Diambil dari sebuah kata dalam bahasa Indian Creek yang berarti&amp;#160;: “&lt;em&gt;People of Different Speech&lt;/em&gt;.” Hari ini, bahasa Cherokee dan hurufnya ibarat bahasa Jawa dan &lt;em&gt;Hanacaraka-&lt;/em&gt;nya. Apabila sekolah-sekolah di Jawa menjadikan bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajarannya, maka demikian juga dengan sekolah-sekolah di Cherokee, North Carolina. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkembangan peradaban Indian Cherokee ternyata dibarengi dengan tekanan terhadap mereka. Kulit putih menganggap bahwa Indian Cherokee mendapatkan tanah yang lebih makmur dibandingkan tanah mereka. Mereka meminta pemerintah memindahkan Indian Cherokee ke daerah tenggara Amerika, tepatnya di sebelah barat sungai Mississippi. Sebuah daerah, yang bahkan orang kulit putih pun tak ingin membayangkan tinggal di sana. Mereka menyebutnya&amp;#160;: “&lt;em&gt;The&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Great American Desert&lt;/em&gt;&lt;span&gt;.” &lt;/span&gt;Tahun 1828, ketika Andrew Jackson terpilih sebagai Presiden Amerika, inilah awal malapetaka bagi Indian Cherokee.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Indian Cherokee terusir dari tanahnya akibat “The Indian Removal Act” yang dilakukan oleh Andrew Jackson. Sebuah kebijakan yang diambil Jackson untuk memindahkan suku asli ini dari tanahnya ke daerah Barat (Oklahoma). Kebijakan ini pulalah yang mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan rasis—anti Indian lainnya di beberapa negara bagian Amerika. Jackson sepertinya lupa, bahwa nyawanya pernah diselamatkan oleh dua orang Indian Cherokee dalam peperangan melawan penjajahan Inggris pada tahun 1812. Dua orang Indian itu adalah Sequoyah dan John Ross. Bahkan, pasukan Jackson sepenuhnya didukung oleh suku Indian Cherokee.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;HARI itu, 1 Oktober 1838. John Ross, lelaki Indian yang menjadi kepala suku dari Indian Cherokee, untuk terakhir kalinya melihat tanah yang menjadi rumah mereka. Ratusan kereta kuda telah siap mengangkut suku Indian Cherokee. Anak-anak dan perempuan telah dinaikkan ke kereta. John Ross menghela napas. Ada kekhawatiran dalam dirinya. Perjalanan ini akan sangat berat. Sementara persediaan sandang pangan mereka tak cukup. Belum lagi sebagian dari mereka telah terlebih dahulu jatuh sakit. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lelaki Indian ini teringat pada sekolah, rumah, dan ladang yang telah mereka bangun di tanah ini. Dia dan suku Indian Cherokee lainnya tak ingin meninggalkan rumah mereka. Namun, mereka tak memiliki pilihan lain. 17 ribu orang suku Indian Cherokee harus pergi ke barat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Langit mendung. Suara petir bergemuruh di angkasa. Beberapa orang saling berpegangan tangan. Ini adalah pertanda buruk dalam kepercayaan mereka. John Ross naik ke kereta kuda. Orang-orang berkumpul di sekitarnya. Mereka memanjatkan doa dalam bahasa Cherokee. “Kita meminta perlindungan Tuhan dalam perjalanan ini!” kata John Ross. “Amin,” jawab yang lain. Perlahan, kereta-kereta kuda itu bergerak menuju barat. Meninggalkan kepulan debu di tanah yang telah menjadi bagian dari jiwa mereka, Tennessee.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan suku Indian Cherokee menuju barat dikenal dengan “The Trail Of  Tears”. Sebuah tragedi dalam perjalanan sejarah suku bangsa Indian Cherokee sebab memakan korban ribuan jiwa. Berlangsung selama 139 hari, &lt;em&gt;The Trail of Tears&lt;/em&gt; memakan korban jiwa sebanyak 4000 orang. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt; “AAAAAHHHH….,” &lt;/em&gt;lengkingan menyayat hati keluar dari bibir Tsali ketika peluru menembus tubuhnya. Tubuh tua Tsali rebah ke tanah dengan bersimbah darah. Tangisan menyayat hati menggema, membelah malam pada musim panas. Tsali dihukum mati karena membunuh dua orang tentara kulit putih, demi membiarkan kawan-kawannya melarikan diri dari kamp penampuangan suku Indian di tanah ‘pemberian’ kulit putih. Tsali menukar kebebasan kawanan Indian Cherokee yang melarikan diri dengan nyawanya. Tepuk tangan bergemuruh, para penonton berdiri dari bangkunya, memberikan penghormatan bagi Tsali, sang pahlawan suku Indian Cherokee. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/a98c535f774a5d3830c6c63d8b9d84fb/tumblr_inline_mkzah0bdE71qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Itulah sepenggal adegan dalam pertunjukkan Outdoor Drama: Unto These Hills. Sebuah pertunjukan drama yang akan membawa kita menyaksikan sejarah Cherokee. Setelah siang harinya mengunjungi museum, maka menyaksikan outdoor drama di malam hari seperti memasuki mesin waktu yang melemparkan kita ke masa ratusan tahun silam. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Outdoor Drama Unto These Hills adalah sebuah pertunjukkan drama musim panas yang digelar pada malam hari. Pertunjukkannya bisa mulai disaksikan pada pertengahan Juni dan berakhir pada tanggal 21 Agustus setiap tahunnya. Berkisah tentang awal terbentuknya Bumi, perjuangan suku Indian Cherokee mempertahankan tanahnya, hingga penderitaan mereka dalam &lt;em&gt;The Trail of Tears&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tiket untuk menyaksikan pertunjukkan ini cukup mahal. Orang dewasa dikenakan biaya sebesar US $ 16.00 dan US $ 8.00 untuk anak-anak. Di bawah enam tahun tidak dikenakan biaya. Sedangkan tiket dengan pemesanan terlebih dahulu, biayanya lebih mahal, yaitu US $ 18.00. Agak sulit memang untuk mendapatkan tiket outdoor drama di musim panas. Pertunjukkan drama ini tak pernah sepi. Setiap hari, ratusan orang berbondong-bondong datang dan menyaksikannya. Seluruh bangku terisi penuh. Tak heran apabila orang lebih suka melakukan pemesanan tiket terlebih dahulu daripada gigit jari karena kehabisan. Tiket telah termasuk biaya transportasi menuju &lt;em&gt;Mountainside Theater, &lt;/em&gt;tempat di mana pertunjukkan diadakan&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;SETELAH museum dan outdoor drama, mengunjungi &lt;em&gt;The Oconaluftee Indian Village &lt;/em&gt;akan semakin menyempurnakan petualangan kita. Perkampungan suku Indian yang lokasinya berdekatan dengan &lt;em&gt;Mountainside Theater&lt;/em&gt; ini terbuka untuk umum mulai tanggal 15 Mei hingga 25 Oktober setiap tahunnya. Kita harus merogoh kocek senilai US $13 untuk dewasa, dan US $ 6 untuk anak-anak (6-13 tahun) bila ingin menikmati kehidupan di perkampungan suku Indian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;The Oconaluftee Indian Village&lt;/em&gt; dibangun oleh &lt;em&gt;Cherokee Historical Assosiation&lt;/em&gt;, sebuah lembaga nirlaba. Mengunjungi perkampungan ini, kita diajak kembali ke kehidupan 225 tahun silam. &lt;em&gt;The Oconaluftee Indian Village&lt;/em&gt; adalah replika dari perkampungan suku Indian lebih dari dua abad lalu. Seorang Indian berpakaian tradisional yang akan bertindak sebagai pemandu wisata untuk  menjelajah perkampungan ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menyaksikan langsung kebudayaan dan gaya hidup suku Indian adalah pengalaman yang tak terlupakan. Kita diajak mengenal sejarah nenek moyang mereka dan menyaksikan kesenian dan kerajinan tangan para Indian. “&lt;em&gt;One of Cherokee’s craft is the art of beadwork&lt;/em&gt;,” tutur pemandu wisata ketika rombongan berhenti di sekelompok perempuan Indian yang sedang membuat kerajianan dari biji-bijian. Biji-bijian itu dirangkai oleh mereka menjadi anting, kalung, gelang, dan hiasan pada tas serta keranjang dari bambu. Selain kerajinan tangan dari biji-bijian, Indian juga membuat kerajinan tembikar dan ukiran. Kita juga bisa menyaksikan bagaimana para Indian ini membuat &lt;em&gt;canoe &lt;/em&gt;dengan menggunakan api dan kapak. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di salah satu sudut perkampungan ini, kita akan menemukan penggilingan jagung. Jagung adalah salah satu makanan pokok suku Indian. Masa panen jagung merupakan penanda bahwa tahun telah berganti bagi suku Indian. Masa panen jagung berarti awal tahun baru. Ketika jagung-jagung di ladang telah matang, mereka akan menyelenggarakan &lt;em&gt;The Green Corn Ceremony, &lt;/em&gt;upacara pergantian tahun.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/d195360db6b0a03693d60f163263de47/tumblr_inline_mkzatjNSbT1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;MENGUNJUNGI daerah reservasi Indian Cherokee di Cherokee, North Carolina, ibarat kembali ke masa lalu. Kota kecil bersuhu sejuk ini terletak di sebelah barat North Carolina. Ia dikelilingi The Great Smoky Mountains. Pegunungan yang terkenal sebagai &lt;em&gt;The ancestral homeland &lt;/em&gt;(Tanah leluhur)dari suku Indian Cherokee.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari Atlanta, Georgia, perjalanan menuju Cherokee ditempuh selama empat jam dengan kendaraan pribadi. Pertama kali memasuki kota Cherokee, ingatan saya melayang pada Winnetou, kepala suku Indian Apache yang ada dalam karya-karya Karl May. Tetapi, jelas suku Indian di Cherokee, tak sama dengan suku Indian Apache yang ada dalam cerita-cerita Karl May. Suku Indian Apache menempati daerah di Southern Arizona, New Mexico, dan Mexico. Sedangkan Indian Cherokee mendiami negara-negara bagian Georgia, Alabama, Tennessee, Virginia, West Virginia, Kentucky, South Carolina, dan North Carolina. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terdapat dua kelompok besar suku Indian Cherokee. Yaitu kelompok &lt;em&gt;Eastern Band&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Western Band. Western Band&lt;/em&gt; adalah mereka yang melakukan perjalanan menuju Oklahoma (&lt;em&gt;The Trail of Tears&lt;/em&gt;), sedangkan &lt;em&gt;Eastern Band&lt;/em&gt; adalah yang menolak meninggalkan tanah mereka. Kelompok ini lari masuk ke dalam hutan di Smokey Mountains&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Akhirnya, pada tahun 1889, pemerintah Amerika membuat &lt;em&gt;The Qualla Indian Resevation&lt;/em&gt; di North Carolina sebagai rumah bagi &lt;em&gt;The Eastern Band&lt;/em&gt;. Pembuatan daerah reservasi ini diprakarsai oleh seorang keturunan kulit putih bernama Will Thomas. Hari ini, &lt;em&gt;The Qualla Boundary &lt;/em&gt;lebih dikenal dengan sebutan &lt;em&gt;Cherokee Indian Reservation&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;The Eastern Band&lt;/em&gt; memiliki enam klan, yaitu Yellowhill, Birdtown, Painttown, Snowbird, Big Cove, dan Wolftown. Merekalah yang terus melanjutkan sejarahnya hingga hari ini. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di Cherokee sejarah hadir melampaui kata-kata. Kita bisa hidup di dalamnya, menyentuhnya, dan mengalami petualangan masa lalu. Ketika petualangan ini berakhir, &lt;em&gt;you will know who the Cherokee are, and why they are still here….(&lt;/em&gt;13)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*)i lost all my photos of cherokee. images those are used on this post are taken from wikipedia and ashevilleguidebook.com&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/47526877742</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/47526877742</guid><pubDate>Tue, 09 Apr 2013 15:01:00 +0700</pubDate></item><item><title>A Journey Called Life</title><description>&lt;p&gt;&lt;a class="tumblr_blog" href="http://katakatabana.tumblr.com/post/26070481427/a-journey-called-life"&gt;katakatabana&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/tumblr_m6bz77hrYF1qarasz.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;June 28&lt;/strong&gt; - Banyak penyebab kita melakukan sebuah perjalanan. Mungkin karena tugas, mengunjungi teman atau kerabat, sekedar melepas penat, atau mencari sesuatu. Ya, mencari sesuatu, entah yang kita sudah mengetahui apa yang kita cari ataupun belum. Sedikit banyak, hal itulah yang tertuang dalam travelogue karya penulis Windy Ariestanty, Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan. Sebuah buku yang saya dapatkan dari seorang sahabat dalam sebuah &lt;a href="http://katakatabana.tumblr.com/post/22649681004/suatu-ketika-di-sebuah-perjalanan" title="Unwritten | Suatu Ketika Di Sebuah Perjalanan" target="_blank"&gt;perjalanan&lt;/a&gt; pulang dari Jogjakarta.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;Life Traveler&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;Windy Ariestanty, seorang editor pada grup penerbit GagasMedia, menuliskan pengalamannya dalam melakukan perjalanan ke berbagai tempat di seluruh dunia. Tercatat setidaknya 10 negara dan 3 benua masuk dalam travelogue ini. Mulai dari perjalanan di Indochina (Malaysia, Vietnam, Kamboja, Thailand), Eropa (Jerman, Swiss, Belanda, Rep. Ceska, Perancis), hingga Amerika Serikat; semuanya tertuang secara rinci. Layaknya travelogue lainnya, Life Traveler memuat banyak tips dan juga informasi tempat-tempat yang harus dikunjungi oleh pelancong jika mampir ke negara-negara yang disebut di atas. Dilengkapi foto-foto dan beberapa ilustrasi berupa lukisan, buku ini terasa begitu hidup, dan menghadirkan pengalaman kepada pembacanya serupa dengan yang dirasakan Windy saat berada di tempat-tempat tersebut. Namun, bagi saya sendiri, yang membuat travelogue ini memiliki nilai lebih adalah, tidak hanya memberikan informasi akan tempat-tempat yang dikunjungi, Windy pun memasukkan pelajaran-pelajaran hidup yang didapatnya dari perjalanan tersebut. Kemampuan Windy dalam mengamati dan berinteraksi dengan manusia-manusia di perjalanannya, itu yang menjadi titik penguat travelogue ini. Tentang konsep pulang, rumah, pencarian, dan konsep persahabatan; semuanya terangkum manis, mengalir, terasa hangat dan dekat dengan saya sebagai pembaca. Banyak dari bagiannya menjadi pengingat bagi saya akan kehidupan saya sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://katakatabana.tumblr.com/post/26070481427/a-journey-called-life"&gt;Read More&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;thank you for reading life traveler and spending your time to write this review. &lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/44776848402</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/44776848402</guid><pubDate>Thu, 07 Mar 2013 17:23:34 +0700</pubDate></item><item><title>Buku Yang Kubaca: Bintang 5 Untuk Life Traveler</title><description>&lt;a href="http://reviewdian.tumblr.com/post/44431308908/bintang-5-untuk-life-traveler"&gt;Buku Yang Kubaca: Bintang 5 Untuk Life Traveler&lt;/a&gt;: &lt;p&gt;&lt;a class="tumblr_blog" href="http://reviewdian.tumblr.com/post/44431308908/bintang-5-untuk-life-traveler"&gt;reviewdian&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Pada 2011, “prestasi” membaca saya cukup bagus. Target 20 buku selama setahun dapat saya capai, bahkan masih bisa menambahkan satu lagi, sehingga total sepanjang tahun ini saya membaca 21 buku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Life Travelers adalah salah satu buku favorit saya tahun ini. Buku ini di tulis oleh Windy Ariestanty…&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;thanks for reading and reviewing my book. thanks for choosing this book as your ‘travel’ companion. :))&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/44776475387</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/44776475387</guid><pubDate>Thu, 07 Mar 2013 17:06:50 +0700</pubDate></item><item><title>i love you. and i love you more: the antithesis of love...</title><description>&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/873c16eb10edf897ed836175cf69e179/tumblr_mix2jkvhrc1r55zl4o1_500.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;i love you. and i love you more:&lt;/strong&gt; the antithesis of love isn’t hate, but simply when we stop caring each other. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;taken in the n seoul tower, seoul, republic of korea.&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/44203453460</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/44203453460</guid><pubDate>Thu, 28 Feb 2013 13:11:44 +0700</pubDate></item><item><title>menulis padat pada suatu pagi yang tak bersalju</title><description>&lt;p&gt;&lt;img src="http://media.tumblr.com/0c9e8a2059e9030943989812041100cb/tumblr_inline_mickrxc26V1qz4rgp.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘KALAU ingin belajar menulis padat, Kawabata ini salah satu yang terbaik, kurasa,’ kata A.S Laksana pada suatu pagi melalui layanan SMS.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya yang masih setengah sadar dari tidur mendadak terbangun dan duduk tegak. Sambil membersihkan kotoran di mata yang membuat pandangan mengabur, saya membaca sekali lagi SMS itu. Mas Sulak, demikian saya biasa memanggilnya, memang menuliskan SMS itu. Dan buat saya, SMS itu bukan SMS biasa. SMS itu dari seorang penulis yang diam-diam saya kagumi kejeliannya dalam memilih kata. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kalau kalian pernah membaca buku kumpulan cerpen berjudul &lt;em&gt;Bidadari yang Mengembara&lt;/em&gt;, yang dinobatkan sebagai Sastra Terbaik 2004 Indonesia versi Majalah &lt;em&gt;Tempo&lt;/em&gt;, dialah penulisnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;!-- more --&gt;‘NOVEL Kawabata ini seperti puisi panjang. Semua kata-katanya memiliki makna ganda. Dan itu luar biasa indah dan puitis.’ Petikan percakapan itu masih jelas ada di ingatan saya. Mas Sulak dalam proses menerjemahkan &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt;, karya &lt;em&gt;master piece&lt;/em&gt; Yasunari Kawabata ini, sempat berkali-kali menelepon saya untuk menceritakan proses pengalihbahasaannya. Bagaimana Kawabata mampu membuat ia tekun dan tertantang untuk bisa menghadirkan &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt; dalam versi bahasa Indonesia yang seindah aslinya.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;‘Kautahu,’ kata Mas Sulak, ‘adegan jendela senja itu luar biasa puitis.’&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;‘Adegan yang mana, Mas?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Ketika tokoh utama bertemu dengan geisha itu di kereta api. Ketika senja memantulkan wajahnya di jendela kereta api, dan si tokoh utama menatap kecantikannya dari jendela senja buram kereta api. Itu luar biasa indah,’ terang Mas Sulak lamat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Aku menyebut itu sebagai adegan jendela senja,’ lanjutnya seolah hendak menekankan. Ada jeda di intonasi suaranya yang entah kenapa, seperti juga menahan sekian detik jantung saya untuk berdetak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya terdiam. Mencoba membayangkan jendela senja yang dimaksud Mas Sulak. Wajah cantik si geisha yang pipinya sewarna angsa baru dibului. Saya menduga-duga, kisah cinta yang ditulis Kawabata ini pastilah begitu menyihir sehingga Mas Sulak mau menghabiskan waktunya menelepon saya untuk membahas agedan-adegan di dalamnya yang membuat ia bersemangat dan tertantang untuk menerjemahkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sejujurnya, saya tak pernah memiliki pertimbangan khusus ketika memutuskan untuk membeli hak penerbitan &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt; karya Kawabata ini di Indonesia. Saya hanya tahu dia penulis Jepang yang legendaris. &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt; adalah karya sastra abadi yang melulu dibahas, tak hanya di Jepang, tetapi juga dalam skala internasional. Pertama kali berkenalan dengan Kawabata ketika saya masih duduk di bangku kuliah. Saya jatuh cinta dengan pilihan katanya ketika membaca &lt;em&gt;Seribu Burung Bangau (Senbazuru)&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Awal tahun 2009, tanpa sengaja saya menemukan &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt; di sebuah toko buku khusus buku berbahasa asing. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sesungguhnya saya hanya ingin kembali mengenang lorong di perpustakaan tua tempat saya menemukan &lt;em&gt;Seribu Burung Bangau&lt;/em&gt;. Bau buku-buku tua dan warna muram rak kayunya. Kembali merasakan gairah di setiap pilihan kata Kawabata ketika saya membacanya di tepi jendela tua berdebu. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan tergeraklah saya membeli lalu membacalah &lt;em&gt;Snow Country.&lt;/em&gt; Sebuah kisah cinta yang melemparkan saya ke sebuah daerah salju di Jepang. Menyelinap masuk, menjadi penikmat bisu cerita cinta Shimamura dan Komako. Sebuah kisah cinta yang telah gagal sejak pertama kali keduanya bertemu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;MAS Sulak berkali-kali menunda mengirimkan hasil terjemahannya kepada saya. padahal berkali-kali pula ia menelepon untuk memberitahu buku itu telah selesai ia terjemahkan dalam waktu sebulan. ‘Aku rasa masih ada kata yang kurang pas,’ ujarnya di telepon beberapa hari lalu saat ia merasa kurang sreg dengan hasil terjemahannya. ‘Beri aku waktu satu hari lagi. Aku ingin mengecek semuanya lagi. Ini yang terakhir kali.’ Dan pagi ini, ia memenuhi janjinya. Terjemahan itu telah ia kirimkan ke e-mail saya disertai sebuah pemberitahuan lewat SMS.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Membaca SMS Mas Sulak seperti membaca larik puisi buat saya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Sudah saya kirim satu setengah jam yang lalu. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi tak usah buru-buru kaubuka karena ini hari libur kan?’ tulisnya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Buat saya, bekerja sama dengan Mas Sulak untuk menerjemahkan buku ini memberikan pengalaman yang menyenangkan. Saya yakin Mas Sulak tak pernah sadar, bahwa dia telah mengajari saya banyak hal dalam urusan tulis-menulis, jauh sebelum ia menerjemahkan buku di GagasMedia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Aku harus kerja keras untuk mengalihkan makna ganda dalam kalimat-kalimatnya. Itu yang tidak mudah,’ kata Mas Sulak di SMS.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya tahu, menerjemahkan itu adalah proses yang tidak mudah. Penerjemah yang baik tentunya sangat berhati-hati agar karya terjemahannya tak mencederai karya asli penulis. Bagaimanapun, tak bisa dipungkiri, proses sulih-menyulih kerap kali mengurangi rasa sebuah cerita. Inilah tantangan menerbitkan karya terjemahan. Proses ini bukan sekadar mengubah kata-kata asing ke dalam bahasa ibu kita. Ia juga harus bisa menangkap dengan tepat apa yang dimaksudkan si penulis, namun tetap memudahkan si pembaca memahami dalam bahasa lokal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;‘Saya tahu. Terima kasih, Mas Sulak. Kami juga akan terus belajar agar bisa menerbitkan buku dengan lebih baik lagi,’ balas saya lewat layanan yang sama. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak lama, sebuah pesan masuk lagi ke inbox hanphone saya.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;‘Terbitkan lagi novel terjemahan yang bagus. Tapi harus cari penerjemah yang bahasa Indonesianya bagus. Dari situ pembaca bahasa Indonesia bisa belajar banyak. Dan tentu, menulis lebih bagus.’&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Kali ini saya langsung berdiri tegak dan buru-buru mencari Miss O—nama macbook saya. Saya ingin segera membuka e-mail dan membaca &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt; karya Kawabata yang diterjemahkan Mas Sulak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Entah kenapa, saya juga tiba-tiba ingin hari segera berganti menjadi Senin. Saya ingin bisa segera ke kantor dan bertemu teman-teman saya. Lalu bersama-sama dengan mereka menerbitkan buku seperti yang Mas Sulak bilang. Buku yang bisa membuat pembacanya belajar banyak dan menulis dengan lebih bagus. [13]&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*)tulisan ini dibuat pada tahun 2009&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;**) sampul buku &lt;em&gt;Snow Country&lt;/em&gt; digunakan atas izin GagasMedia dan desainernya Jeffri Fernando.&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/43286507412</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/43286507412</guid><pubDate>Sun, 17 Feb 2013 11:48:33 +0700</pubDate></item><item><title>the culture guardian. he walked around, he smiled to everyone,...</title><description>&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/7b60f82ae92d51c134d974bda1d015fb/tumblr_mgtcpv6x6t1r55zl4o1_500.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;the culture guardian&lt;/strong&gt;. he walked around, he smiled to everyone, he danced freely. he gave his best pose when he looked at me. &lt;em&gt;splash!&lt;/em&gt; he spread his fan, ‘is my pose good enough for you?’ i laughed and showed my right thumb to him, indicating that his pose was perfect. he answered me with a big grin and invited me to dance together with him and the other people in the hall of todaiji temple, nara, japan, to celebrate the beginning of autumn, to celebrate the cultural heritage of his nation. &lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/40832027698</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/40832027698</guid><pubDate>Fri, 18 Jan 2013 15:53:55 +0700</pubDate></item><item><title>kisah seorang gadis cilik yang ingin berkulit putih</title><description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/0ec47dbe5d33090be91b30e6d359399a/tumblr_inline_mfxx3yCkGY1r1kty2.jpg"/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ini kisah seorang gadis kecil yang berteman dengan saya selama di Ubud, Bali. Yang bangun pada keesokan pagi, lalu berpikir, mungkin dunia akan lebih menarik bila ia berkulit putih.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya sedang duduk di bangku kayu di sebuah pekarangan belakang rumah yang penuh dengan tanaman menjalar. Tiupan angin, menggoyangkan gantungan bambu yang digantungkan di jendela dapur, menimbulkan suara mirip kentongan dipukul bila setiap bilah bambunya bertubrukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Seorang gadis cilik berambut panjang hitam legam masuk dengan wajah cemberut. Bibir merahnya mencucut mirip ikan cucut.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Aku mau beli krim pemutih,’ kata Adel. Ia menyodorkan gambar krim pemutih yang diguntingnya dari sebuah majalah. ‘Yang kayak ini.’&lt;!-- more --&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya dan teman saya yang sedang asyik memilih daun kemangi untuk dibuat saus pesto terdiam beberapa saat. Teman saya pun bertanya, ‘Kenapa, Del?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Adel mau punya kulit putih. Adel nggak suka kulit Adel.’ Adel adalah gadis cilik dari Bima, usianya belum genap 6 tahun waktu itu. Ia pindah ke Ubud karena persoalan keluarga. Ibunya tak sanggup lagi membesarkan Adel. Ada lima orang anak yang harus dihidupi. Bayi Adel—yang katanya lahir karena kebobolan—membuat persoalan tambah runyam. Jadilah Adel dibawa ke Ubud. Dititipkan ke saudara yang dianggap masih mampu merawatnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya menggeser panci berisi dedaunan kemangi ke sisi kanan saya. Adel duduk di kursi kayu pendek berwarna kuning. Setiap siang atau sore, Adel sering bermain ke rumah teman saya ini. Selama di Ubud, Adel adalah salah satu teman kecil saya. Kami bermain ke padang rumput, kandang kerbau yang tak jauh dari rumah teman saya, atau ke sawah menangkap capung. Sesekali, kami bermain layangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel diam. Kaki kecilnya yang panjang bergoyang-goyang, tergantung tak menyentuh lantai.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;‘Kulit hitam jelek. Tidak cantik.’ Adel memandang kulit tangannya dengan wajah manyun. Bibirnya tetap cemberut, kali ini dengan mata yang menyipit dan alis bertaut karena keningnya berkerut.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Siapa yang bilang seperti itu, Del? Saya bertanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kata Adel, semalam dia menonton TV di rumah tetangga bersama teman-teman dan beberapa orang di desa. Lalu, ada iklan. Adel tak menyebutkan iklan apa. Saya rasa dia juga tak terlalu tahu. Tapi, Adel ingat iklan tersebut dibintangi oleh seorang perempuan. Intinya, iklan mengatakan perempuan itu cantik bila berkulit putih. Parahnya, ketika iklan itu tayang orang-orang dewasa berkomentar dan rupanya, komentar ini yang melekat dan mengusik Adel.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel diolok-olok. ‘Kata Made, Adel tidak bisa masuk TV soalnya hitam.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya menghela napas. Bingung, bagaimana menjelaskan ini kepada anak sekecil Adel. Tapi, yang membuat saya saat itu lebih sakit hati adalah karena orang dewasalah yang mengejek-ejek warna kulit Adel.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut saya Adel gadis Bima yang cantik. Sepasang mata cokelatnya berbentuk seperti mata kucing, sudut luar matanya meruncing naik, bibir tipisnya berwarna merah jambu segar, kontras dengan kulitnya yang gelap dan kerap terbakar sinar matahari ketika bermain. Rambutnya panjang dan hitam legam. Perawakan Adel kurus dan jangkung. Saya pernah bilang ke teman saya, Adel kalau besar nanti diarahkan jadi model saja. Karena besar di Ubud dan beberapa temannya anak-anak orang asing, Adel jago berbahasa Inggris. kalau kesulitan mengartikan apa yang dia mau, Adel akan berbicara dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa logat Bali sama sekali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya memahami perasaan Adel. Dulu—bahkan sampai sekarang—saya masih kerap diolok-olok karena kulit saya berwarna gelap. Saya pernah seperti Adel, pulang ke rumah dengan kesal dan memukul-mukul kulit tangan saya yang gelap karena diolok-olok ‘Windy Si Layangan Hitam’. Disebut layangan karena saya kurus kerempeng. Saya tidak ingat apa yang kemudian membuat saya memutuskan menulikan telinga. Yang jelas, saya tidak mau bermain dengan Si Pengolok, bahkan tak sudi berbicara dengannya di sekolah. Dia suka menarik kuncir rambut saya kalau saya bergeming. Kalau saya melotot, dia akan bilang, ‘Cie, Si Layangan Hitam Manis marah!’ Untungnya, saya kerap berpindah sekolah, jadinya saya tak perlu lama-lama satu sekolah dengan anak itu. Sayangnya, saya tidak melupakan sama sekali apa yang dia katakan. Saya membencinya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Satu hari, entah kenapa waktu kami kembali bersinggungan. Indonesia ini luas dan sekali lagi saya bertemu dengan dia, di sebuah mall. Dia menyapa saya duluan. ‘Kamu Windy kan?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya  mengamati lelaki yang menyapa saya. Potongan-potongan kejadian ketika seragam kami masih merah-putih bermunculan. Saya tahu, dia teman sekolah saya itu. ‘Aku Bobby! Teman sekolah kamu waktu di Manado.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tak usah diingatkan, saya tahu. Tapi, saya memilih menjawab, ‘Maaf, kamu yakin kamu teman saya?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya melihat kilat kebingungan di wajahnya. Teman yang ada di sampingnya menowel, ‘Salah orang kali. Lihat cewek manis aja lo langsung ngaku-ngaku temannya.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kamu Windy kan? Saya ingat tahi lalat di dagu kamu. Kita teman SD.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya ingat tanpa perlu diingatkan. Tapi, sekali lagi, saya menggeleng. ‘Maaf, saya tak yakin kita pernah berteman.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Bobby menatap saya heran, saya tersenyum tipis lalu pergi dengan seringai puas. Sekarang, dia bilang dia teman saya. Iya, saya tidak sebaik orang lain. Saya membencinya dan menikmati balas dendam saya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Waktu kuliah, teman lelaki saya juga mengolok-olok saya dengan bilang kalau sekujur tubuh saya dipenuhi tahi lalat makanya hitam. Pernah juga dibilang, ‘Kamu sih mau dandan kayak apa kalau hitam juga jadinya nggak cantik’.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Saya sebenarnya tersinggung. Kesal. Saya tidak pernah memilih berkulit gelap atau putih. Tapi, kalau marah, dibilang tidak asyik diajak bercanda. Kadang, keinginan untuk diterima membuat saya bertahan dengan bersikap baik-baik saja. Saya marah, tetapi malah yang keluar dari mulut saya selalu, ‘Biarin saja. Aku suka kok kulitku.’ Dan sampai sekarang, teman saya itu tetap tidak mengerti. Dia masih suka mengolok-olok saya sampai sekarang. Tapi, pemahaman saya sudah berubah 180 derajat. Hal seperti itu sudah tidak mengesalkan lagi. Saya justru kasihan dengan dia dan berharap anaknya tak perlu mendengar kalau bapaknya sering ngomong begitu. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dan saya, sejak memasuki bangku kuliah, benar-benar menyukai warna kulit saya. Bahkan menghindari memakai krim pemutih atau produk kecantikan yang mengandung pemutih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya memahami perasaan Adel, tetapi saya bingung menjelaskan kepada Adel tak ada yang salah dengan warna kulitnya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Adel kan sering lihat orang warna kulitnya beda-beda?’ tanya saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel mengangguk. ‘Tapi mereka bukan orang Indonesia.’ &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Iya. Di Ubud, desa internasional—begitu julukan Rhys, teman saya asal Australia, mudah menemukan orang asing dengan beragam suku bangsa, warna kulit, warna bola mata, dan warna rambut. Adel sejak kecil terbiasa dengan perbedaan itu. Namun, ketika ia kembali ke lingkungannya, Adel justru diolok-olok karena warna kulitnya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Keesokan harinya, Adel sudah tak lagi ribut minta dibelikan krim pemutih, tetapi seharian dia mendekam di rumah teman saya. Ketika diajak main oleh teman-temannya, Adel menolak, dia tidak mau terkena sinar matahari, takut hitam. Saya sempat singgah ke Periplus, menemukan sebuah majalah yang di dalamnya ada model-model berkulit gelap. Saya membelinya dan menunjukkan itu ke Adel.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Mereka cantik kan?’&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Mereka bukan orang Indonesia. Kalau orang Indonesia memang bisa masuk TV dan majalah?’ Adel balik bertanya.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Bisa.’ Saya berusaha meyakinkan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Adel tidak pernah lihat ada di TV. Yang di iklan semuanya putih.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Teman saya menyahut, Adel sebaiknya tidak usah lagi ke rumah tetangga untuk menonton TV. ‘Adel kan lihat, kulit Windy juga cokelat.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel melihat ke saya. ‘Iya, tapi orang-orang itu tidak bilang Windy jelek. Bu Agung juga sering bilang Windy cantik.’ Yang dimaksud Adel orang-orang itu adalah para tetangga. Bu Agung adalah salah satunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Menurut Adel, aku cantik?’ Saya melihat Adel. Saya pikir, saya tak perlu model di majalah untuk membahas masalah ini. Menjadikan saya sebagai contoh justru lebih realistis buat Adel.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel yang biasanya memanggil saya dengan nama saja itu mengangguk. ‘Padahal warna kulit saya sama seperti Adel. Tidak putih.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Windy dulu main di sawah? Panas-panasan juga tidak?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya mengangguk. Saya bilang, sampai sekarang saya masih main di sawah. ‘Kan kita nangkap capung dang main layang-layang bareng, Del….’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel menepuk jidatnya. ‘O, iyaaa!’ Ia tersenyum lebar hingga gigi-gigi susunya yang berwarna putih terlihat. ‘Tidak takut hitam?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Sekali lagi saya menggeleng. ‘Tidak. Ya, sehabis main, rajin mandi biar bersih dan tidak bau.’ Saya tahu Adel, sama seperti kebanyakan anak kecil, suka susah disuruh mandi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Adel loncat dari sofa. Ia berdiri di depan cermin yang diletakkan dekat tangga. ‘Apa lagi?’&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Makan buah dan sayur.’ Teman saya menyahut, Adel susah kalau disuruh makan sayur. ‘Biar kulitnya halus dan sehat, Del.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Gadis kecil itu mengerling, dia lalu menghampiri saya. Tangan kurusnya berusaha menggapai pipi saya. Saya membungkuk, membiarkan Adel merabai kedua pipi saya. Kembali ia tersenyum lebar, lalu dalam sekejap, dia berlari memburu ke arah pintu depan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami terkejut. ‘Loh, Adel mau ke mana?’ Teman saya berteriak memanggil Adel.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Main!’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*** &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Adel tidak pernah lagi merengek minta dibelikan krim pemutih. Juga tidak lagi meributkan warna kulitnya. Adel kembali bermain bersama teman-temannya. Saya senang melihat anak-anak beragam bangsa, warna kulit, warna rambut, dan warna bola mata itu bermain. Berkejar-kejaran. Mereka bicara dalam beragam bahasa. Inggris, Indonesia, Bali. Campur aduk. Anehnya, mereka seperti saling paham.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;Kadang, orang dewasa yang justru lebih sulit menerima perbedaan dibanding anak-anak kecil. Komentar-komentar dan cara pikir orang dewasalah yang justru membuat kebijaksanaan mereka runtuh. Lenyap.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Satu sore, Adel tiba-tiba menghampiri saya yang sedang duduk di tepi lapangan depan pura, menonton mereka bermain layangan. ‘Windy, kata Wayan kamu cantik. Dia suka kamu,’ bisiknya sambil melirik ke arah Wayan yang sedang berada di tengah lapangan, hendak menerbangkan layangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Wayan, teman main Adel yang berusia setahun lebih muda darinya. Saya ikut mengerling ke arah Wayan. Wayan menatap kami dari kejauhan. ‘Adel, ayo, kamu pegang layangannya!’ &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Adel menyeringai puas, melemparkan tatapan penuh arti sebelum berlari ke tengah lapangan, menghampiri Wayan. Sebuah rahasia antarperempuan telah dibagikannya. Kali ini, saya yang menepuk jidat, menirukan gaya Adel. [13]&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*) image taken from gettyimages.com&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;**) semua nama disamarkan.&lt;/p&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/39373009208</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/39373009208</guid><pubDate>Tue, 01 Jan 2013 16:33:00 +0700</pubDate></item><item><title>selamat hari ibu, papa.</title><description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;‘SELAMAT Hari Ibu, Papa. Terima kasih untuk semuanya.’ &lt;/em&gt;Saya mengirimkan pesan singkat lewat layanan SMS begitu membuka mata pagi ini. Sampai saya menuliskan ini, lelaki yang usianya sudah mencapai kepala enam itu belum juga membalas. Ini hari sabtu, Papa pasti sedang bermain tenis.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Papa adalah sosok ibu yang saya kenal. Ia menjalankan peran ganda itu dengan tidak sempurna. Iya, tidak sempurna. Tetapi, buat saya dan saudara-saudara saya, itu sudah lebih dari cukup. Saya tak ingin lebih. Saya tak menuntut ia juga memaksakan diri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami tak pernah peduli omongan orang. Mereka bilang kami tumbuh tak sempurna tanpa ibu. Papa bilang kami istimewa karena bisa melakukan semua yang terbaik tanpa harus terjebak dalam konsep ‘sempurna’ yang diamini sebagian besar orang. Bahwa keluarga harus ada ayah dan ibu. Semuanya bisa memainkan peran itu. Kami hanya menjalankan peran keluarga sebagaimana yang kami tahu tanpa mengenal kelamin. Papa saya adalah orang pertama yang mengajarkan kesetaraan gender itu kepada saya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Ini bukan pekara kamu laki-laki atau perempuan. Ini tanggung jawab kita bersama sebagai satu keluarga,’ katanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!-- more --&gt;Jadilah Papa bisa menjelma sebagai ibu, kakak saya juga bisa menjadi ibu, saya juga bisa menjadi ibu, adik lelaki saya pun bisa menjadi ibu. Begitu juga sebaliknya, kami semua bisa menjadi papa, kakak, adik, dan teman untuk satu sama lain.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Itulah mengapa kami masih bisa bertengkar lalu kembali duduk bersama sambil menangis dan berpelukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Papa saya bekerja. Ia berpindah-pindah. Kami semua hidup sendiri-sendiri.  Namun, saya tak pernah merasa saya tumbuh dengan tidak baik sebagaimana yang dikhawatirkan oleh orang-orang karena tak ada orang dewasa yang mengawal dan mengajari ini dan itu.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Papa bilang, pada akhirnya manusia harus menghadapi hidupnya sendiri. Jadi, bertanggung jawablah atas hidupmu.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;PAPA saya orang yang tangguh sekaligus rapuh. Selalu tepat waktu, menghormati janji dan komitmen, tetapi kerap plinplan ketika itu menyangkut perasaan orang lain. Dia sulit menolak. dan gampang merasa tak enakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tapi, dia justru mengajari saya untuk tegas. Tak boleh plinplan. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dua kali saya melihatnya menangis deras tanpa suara. Pertama ketika dia meminta maaf kepada ibunya (nenek saya), kedua ketika mama saya meninggal di hadapannya tanpa sempat membuka mata sejak kecelakaan naas itu. Ia seminggu lebih berdiam diri di kamar. Menangis. Sendirian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Papa saya orang yang mengajarkan konsep tanggung jawab kepada saya. Ia tak pernah melarang saya melakukan apa pun asalkan saya paham semua konsekuensinya dan bertanggung jawab penuh atas tindakan saya. Dia bilang, ‘Kepercayaan itu mahal.’ Setiap kali saya memberi tahunya apa yang akan saya lakukan, ia selalu mengiyakan. ‘Asal kamu sudah tahu konsekuensinya,’ selalu itu yang dikatakannya di akhir percakapan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Papa saya orang yang pertama kali mengajari saya traveling. Kalau bukan karena dia percaya sepenuhnya kepada saya, maka saya tak mungkin diizinkannya traveling sendirian dari Blitar ke Palembang dengan menumpangi bus ekonomi—Tasima, namanya—sewaktu saya duduk di kelas 6 SD.  Itu solo traveling saya yang pertama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Perjalanan dari Blitar, Jawa Timur ke Palembang, Sumatra Selatan dengan menaiki bus ekonomi (tanpa AC dan WC , serta manusia yang dijejalkan melebihi kapasitas bus) memakan waktu dua hari dua malam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Waktu saya memberi tahunya bahwa saya ingin ke Palembang, ia membelikan saya tiket dan mengantarkan saya sampai ke pol bus Tasima. Ia menitipkan saya kepada sopir bus. Mendudukkan saya di kursi di belakang sopir dan memberi saya uang secukupnya untuk bekal di perjalanan dan sebulan berlibur di Palembang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Sopir bus tak percaya bahwa saya dibiarkan pergi sendirian oleh papa saya. ‘Bapak ndak khawatir sama putrinya?’ tanya Si Sopir waktu itu. Papa saya menggeleng. Dia bilang, ‘Anak saya yang ini, dilepas di hutan juga pasti bisa menemukan jalan pulang.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami bukan keluarga tak berduit. Tapi, Papa tak pernah mengajarkan saya menghambur-hamburkan uang. Dia bisa membelikan saya tiket bus kelas eksekutif atau menaikkan saya pesawat, tetapi tidak dilakukannya. Dulu saya pikir Papa pelit. Ternyata bukan seperti itu. Dia bilang, itu cara dia untuk mengajari saya menghargai apa pun yang saya dapatkan dari siapa pun. Saya boleh manja hanya kepada diri sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Waktu kecil, saya pernah diajak Papa naik kapal laut dari Jakarta ke Manado. Saat itu waktu tempuhnya selama tujuh hari. Setiap harinya, kapal merapat di pelabuhan besar di tiap kota. Transit beberapa jam. Waktu transit ini yang dimanfaatkan Papa untuk mengajak kami anak-anaknya jalan-jalan keliling kota. Kalau pagi hari (sebelum kapal merapat), pukul 8, Papa akan mengajak kami ke geladak kapal. Pada pukul segitu, ikan terbang bermunculan. Seperti burung memenuhi langit. Itu pertama kalinya saya tahu, ada ikan bisa terbang. Lalu, pukul 4 sore beberapa jam setelah kapal berlayar lagi, Papa akan mengajak kami ke buritan menonton lumba-lumba berlompatan di putih buih yang mengular akibat kapal yang melintas. Papa bilang, ‘Kalau naik pesawat, kamu tidak bisa lihat ini semua.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami juga sering traveling dengan mobil. Setiap kali akan ke Jakarta untuk berlibur, Papa mengajak kami membawa mobil sendiri. Tugas saya mencatat semua hal yang terjadi di perjalanan. Mulai dari berhenti di mana saja, mengisi bensin di kota mana, berapa banyak dan berapa biayanya, serta stop di mana saja dana berapa lama. Kalau capek dan mau istirahat, saya juga harus mencatat nama tempatnya, makan apa, berapa uang yang dikeluarkan. Kakak saya bertugas sebagai bendahara dan seksi konsumsi. Adik saya ya macam-macam, mulai baca peta sampai bertanya jalan ke orang. Waktu itu kami belum ada yang bisa menyetir. Papa selalu menyewa sopir. Ketika sopir mengantuk, Papa yang akan menggantikan menyetir. Lalu Papa bilang, kami semua harus bisa menyetir mobil agar tak perlu merepotkan orang lain kalau ingin ke mana-mana. Dan bisa bergantian menyetir kalau ingin ke mana-mana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Benar saja, semua anak papa bisa mengendarai sepeda kayuh, sepeda motor, dan mobil. Saya bahkan bisa mengendarai motor cowok yang besar dan vespa. Dia bilang, lain waktu saya belajar menyetir truk atau bus saja. Sayang, sampai sekarang saya belum pernah menyetir keduanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Solo traveling saya ke luar negeri untuk yang pertama kali terjadi tahun 2003. Saya ke USA. Uang saya pinjam dari Papa sebanyak USD 3000. Iya, saya pinjam uang dari dia. Pulang dari USA, uang dia saya ganti dari hasil kerja sambilan selama di USA.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya ingat, saya menelepon dia malam-malam. Papa saya saat itu ditempatkan di Kendari, sementara saya kuliah di Malang. ‘Saya mau ke Amerika.’ Saya mengabarkannya. Bagaimanapun saya butuh uang untuk ke USA. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Buat apa?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Belajar. Saya mau belajar hidup di luar negeri. Saya ikut program dan lulus. Tapi transportasi dan biaya hidup selama di sana, ditanggung sendiri. saya butuh uang untuk beli tiket PP dan juga biaya hidup di sana.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kamu punya uang berapa?’ tanyanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Satu setengah juta di tabungan.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Emang cukup duit segitu buat ke sana?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Nggak. Aku mau pinjam uang dari Papa. Nanti Aku ganti.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Caranya?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Aku akan cari kerja di sana.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Tak ada suara. Saya hanya mendengar degup jantung sendiri karena khawatir akan mendapatkan jawaban tidak dari Papa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Berapa lama di sana?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Enam bulan atau setahun. Entah.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kuliah di Malang gimana?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Nggak ada masalah. Kan aku tinggal bikin skripsi.’ Papa tidak tahu kalau saya mengajukan cuti kuliah selama setahun demi ikut program itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Berapa banyak uangnya?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya menyebutkan angka yang saya butuhkan. Besoknya, uang itu sudah ada di rekening saya sehingga saya bisa segera mengurus keberangkatan saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya pergi ke USA dengan uang pinjaman. Ketika berangkat ke USA, saya hanya mengantongi uang sebanyak USD500 di tas ransel. Uang itu modal hidup saya sampai menemukan pekerjaan di sana. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Pulang dari USA, hal pertama yang saya lakukan membayar utang saya. Papa kaget. ‘Loh, benaran statusnya minjam uang?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Aku kan bilang pinjam. Pinjam ya pinjam. Kan aku janji sama Papa akan ganti pas pulang.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Selama di USA, saya bekerja di hotel sebagai &lt;em&gt;house keeper&lt;/em&gt; dan pelayan di Burger King. Hasil kerja sambilan saya pakai buat biaya hidup, traveling, sedikit bersenang-senang, dan membayar utang kepada Papa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya bangga. Saya traveling sendirian ke USA dengan uang sendiri kendati modal awalnya didapatkan dengan berutang kepada Papa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;PAPA orang yang membuat saya tak takut berbuat salah karena dia mengajari saya berani mengaku salah. &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Setiap kali saya melakukan sesuatu, dia selalu bertanya, ‘Apa yang sudah kamu lakukan? Apakah kamu tahu yang kamu lakukan salah?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Rasanya memang menjengkelkan waktu itu. Tapi kalau sekarang boleh mengingat, saya jadi paham, berani mengaku salah memang bukan perkara mudah. Dan dia mengajari hal itu kepada saya sedari kecil. Jadinya, saya tak pernah takut melakukan apa pun dan berpikir panjang sebelum bertindak. Sebab, segala konsekuensinya harus saya pikul sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Ketika duduk di bangku SMA, saya belum memiliki SIM C. Tapi saya sudah bisa mengendarai motor. Papa saya belum mau membelikan saya motor. Ke mana-mana, saya naik sepeda kayuh. Satu hari, saya pinjam sepeda motor teman saya dan belajar melompati palang kayu dengan sepeda motor itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Gagal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Bukannya berhasil membuat motor melompati palang kayu, seperti para pembalap yang saya lihat di televisi, saya justru &lt;em&gt;nyusruk&lt;/em&gt; ke bawah palang. Motor rusak parah dan betis kiri saya sobek (bekasnya masih ada sampai sekarang). &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya pulang ke rumah dengan menangis. Papa duduk di sofa, menyuruh saya berhenti menangis dan menjelaskan duduk perkaranya. Begitu tahu letak masalahnya, ia malah meminta saat itu juga saya pergi menghadap orang tua teman yang motornya rusak akibat perbuatan saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Berhenti menangis. Sekarang juga kamu pergi ke rumah Riri. Minta maaf sama orang tuanya, jelaskan kamu yang salah dan akan mengganti semua kerusakan.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya pikir, Papa akan mengantarkan saya. Tidak. Saya harus ke sana sendiri. Saya pikir, Papa akan memberi uang untuk mengganti kerusakan. Tidak. Saya harus ke bengkel, memperbaikinya, dan mengganti semuanya dengan uang saya sendiri. Ia memang memberikan uang untuk membayar biaya perbaikan, tetapi sampai beberapa bulan ke depan, saya tidak menerima uang jajan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kata Papa, ‘Yang suruh kamu naik motor siapa? Yang pengin sok keren mau bikin motor bila melompat siapa?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya bertanggung jawab penuh atas tindakan saya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;PAPA juga yang membawa saya ke penjara anak-anak dan mengajari saya untuk mencintai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Hari itu saya bermain ke kantor Papa di Surabaya setelah dari Jawa Pos, mengambil data untuk skripsi.  Papa dan saya janji ke Malang bersama-sama. Ternyata, perjalana kami kali ini ‘diikuti’ mobil tahanan. Ada seorang anak yang hari itu resmi akan masuk penjara anak di Blitar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kasus apa, Pa?’ tanya saya penasaran sambil berkali-kali melirik mobil yang mengekor di belakang mobil kami.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Membunuh.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya diam. Pertama kali masuk penjara anak itu beberapa tahun lalu ketika Papa bertugas di Blitar. Saya punya teman di penjara itu. Sebut saja Sam, seorang anak asal Ambon yang masuk penjara karena membunuh juga. Dan sekarang, ada lagi seorang anak dari salah satu pasar di Surabaya yang akan diantar lagi ke Blitar karena membunuh.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Membunuh siapa?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Rentenir di pasar yang memukuli neneknya karena tak bisa bayar utang.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Papa lalu menceritakan kasus anak berusia belasan tahun yang saya lihat tadi di ruangannya dan sekarang berada di mobil belakang kami. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Di Pasuruan kami berhenti sebentar untuk makan. Papa menghampiri mobil tahanan itu. Mengajak semuanya makan, termasuk anak itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kamu ajak dia ngomong ya. Kasihan dari tadi nangis terus.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Anak itu turun dari  mobil dengan wajah tertunduk. Matanya sembab, ia tak berhenti menangis. ‘Lepas borgolnya,’ ujar Papa ke petugas. Belakangan saya tahu, tindakan itu tidak dibenarkan, tetapi Papa bilang, ia yakin anak itu tidak akan lari. Hukum bukan soal hitam-putih. Ada nilai kemanusiaan yang melekat pada pelaksananya, kata Papa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Sayang, saya lupa nama anak itu. Tapi, seperti yang Papa minta, saya menempel kepadanya. Bertanya dia mau makan dan minum apa. Ia terus menggeleng dan menangis. Saya akhirnya memesankan dia es shanghai dan ikan bakar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Anak itu tak mau makan. Saya juga tahu mau bagaimana lagi membujuknya. Akhirnya Papa berkata, ‘Penjara bukan tempat yang menyenangkan. Sebaiknya kamu makan selagi kamu masih bisa menikmati apa yang ada sekarang.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Anak itu geming.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kamu nggak lapar?’ tanya Papa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Lapar, Pak.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Terus kenapa nggak mau makan?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kembali dia menangis. Dengan tersedu-sedu, dia bilang bagaimana ia bisa memakan itu semua sementara ia tidak tahu neneknya makan apa dan siapa yang akan mengurusnya selama dia ada di penjara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya pun berhenti makan. Serasa ada yang menyumbat tenggorok saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Anak itu akhirnya makan dan meminum esnya sambil menangis setelah Papa berjanji akan memastikan soal neneknya. Saya berharap, Papa memang memenuhi janjinya hari itu.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Di mobil, ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Malang, Saya masih ingat kalimat Papa sebelum akhirnya kami tenggelam dalam pikiran masing-masing, ‘Mencintai manusia lain itu tak mengenal soal salah atau benar.’&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;*** &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;DULU, saya pernah mendengar dengan kuping sendiri, bagaimana orang-orang meragukan apakah kami bisa tumbuh menjadi anak-anak yang ‘benar’ tanpa seorang ibu. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kasihan ya anak-anak itu. Tak punya Ibu. Bapaknya juga tidak setiap saat bersama mereka.’ &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya belajar menulikan telinga. Saya tak merasa perlu dikasihani.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya punya Papa yang baik. Tak sempurna, memang. Namun, apa yang selama ini dia lakukan lebih dari cukup.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Buat saya, Papa adalah seorang ibu yang luar biasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Selamat Hari Ibu, Papa! Papa, ibu terhebat saya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ah, saya tahu, dia tidak membaca tulisan saya yang ini. Omong-omong, dia juga bahkan tidak tahu apa pekerjaan saya, selain ‘tukang bikin buku’. Begitu jawabannya setiap kali ada yang bertanya soal pekerjaan saya. [13]&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/38533279347</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/38533279347</guid><pubDate>Sat, 22 Dec 2012 15:56:00 +0700</pubDate></item><item><title>the real colours of yours. show the real colours of your...</title><description>&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/468651cfe8df92e4794aa75fef07cef7/tumblr_meyylcsJcm1r55zl4o1_500.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;the real colours of yours. &lt;/strong&gt;show the real colours of your personality. take off your mask. no need to be someone else. being authentic ain’t difficult at all as long as you can be honest to yourself without worrying what others might think about you. take your authenticity out and let others see the true colours of yours. the beauty of being you.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;event: ngrupuk parade, which takes place on the eve of nyepi (the silent day). location: ubud, bali, indonesia.&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37827896470</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37827896470</guid><pubDate>Thu, 13 Dec 2012 19:27:00 +0700</pubDate></item><item><title>lalu, untuk apa tahu?</title><description>&lt;p&gt;&lt;img alt="image" src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewoa4yEli1r1kty2.jpg"/&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Katanya, terlambat itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi, sejak dua hari lalu, saya bertanya-tanya, buat apa tahu kalau semua sudah terlambat?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;SAYA tercenung melihat kalimat-kalimat yang ada di percakapan BBM. Beberapa detik kemudian, kata ‘goblok’ meluncur keluar. Setelah sekian lama—akibat dia salah mem-BBM, saya dan dia terlibat dalam percakapan ‘apa kabar’.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya mengenal dia beberapa tahun lalu. Seorang Prancis-Kanada yang jatuh cinta kepada Indonesia. Awalnya datang ke Indonesia hanya untuk surfing, hingga kemudian dia memutuskan tinggal di Indonesia. Negeri dengan curah matahari yang tinggi dan pantai yang membuat dia ingin menjelajah keseluruhan pulaunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;!-- more --&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Sejak perkenalan pertama, saya dan dia rupanya sama-sama tahu. Kami saling menjaga jarak. Teman saya suka dia. Harus saya akui dia menarik. Dengan tinggi melebihi 185&amp;#160;cm, rambut pirang kecokelatan, dan mata biru, saya rasa, mudah untuk dia menarik perhatian lawan jenis. Belum lagi, gaya cuek dan sifat moody-nya yang kerap bikin orang jengkel.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami berteman. Tidak terlalu akrab, tetapi tidak juga sekadar begitu-begitu saja. Kalau sedang berdua, kami mengobrol apa saja. Mulai dari agama, tuhan, perempuan-perempuan yang dikencaninya, sampai &lt;em&gt;traveling&lt;/em&gt;. Dia bisa menceritakan tentang masa kecilnya di Prancis dan masa remajanya di Kanada. Bibirnya pernah jontor karena terkena bola sepak. Ia pernah dihukum oleh ayahnya di kamar mandi karena menolak pergi ke gereja. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Satu hari, kami tak sengaja berpapasan di selasar. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;I dated a girl two days ago&lt;/em&gt;,’ katanya tanpa diminta setelah kami saling menepukkan telapak tangan di udara, bertos ria.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya menaikkan alis. ‘Dia cukup pintar kali ini?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Hm. I don’t care. She is hot. But…, seriously, I thought she doesn’t really understand the concept of her religion.&lt;/em&gt;’ Saya melirik jam tangan saya. Dia menyadarinya. ‘&lt;em&gt;Are you busy? I’ve been looking for you to tell this story. I can’t tell it to your friend.&lt;/em&gt;’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya memutuskan untuk mendengar ceritanya. Kalau sampai dia tak tahan ingin menceritakan sesuatu, biasanya karena ada sesuatu yang janggal. Lagian, sudah berbulan-bulan saya tak bertemu dia. Kami berbicara di selasar, tidak mencoba menemukan tempat yang lebih enak untuk mengobrol. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Tell me then.&lt;/em&gt;’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dua hari lalu dia mengencani seorang perempuan. Mereka berkenalan di sebuah bar di daerah Pondok Indah. Bar itu memang tempat favoritnya. Beberapa kali dia mengajak saya ke sana, tetapi selalu saya tampik. Saya enggan bertemu teman-teman ekspatnya yang lain. Saya tahu, dia sering membawa perempuan bergantian ke bar itu. Dan saya tidak mau jadi salah satu dari mereka. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Seperti saya duga. Semua berakhir di tempat tidur. Lalu, ketika bangun keesokan paginya, dia menawari membuatkan roti tangkup dengan ham untuk perempuan itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Do you want a sandwich with ham?’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Ham? Pork?’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Yes, it’s pork.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Hm, I am a moslem. I don’t eat pork.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Why?’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Si perempuan menjawab, ‘&lt;em&gt;That’s haram in my religion.’ &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya tergelak. &lt;em&gt;‘As I thought! You see my point, right?’&lt;/em&gt; Mata birunya membelalak dan tangannya bergerak-gerak, tanda dia memang sedang bersemangat bercerita. &lt;em&gt;‘And then what did you say to her?’&lt;/em&gt; Saya penasaran dengan jawaban teman saya ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dia menatap saya tajam. Tidak lagi terlihat main-main atau cengengesan seperti biasanya. ‘Saya balik bertanya kepadanya,  “Jadi agamamu hanya sebatas daging babi? Kamu tidak makan babi karena menurut agamamu ini haram. Bukankah agamamu juga mengharamkan kamu tidur dengan laki-laki di luar nikah? Mengharamkan minum minuman beralkohol? Dan, kamu bahkan punya tato di pinggangmu? Kamu sudah melakukan semua yang diharamkan dan dianggap dosa oleh agamamu. Lalu apakah hanya dengan tidak memakan daging babi cukup membuat kamu menjadi muslim?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya tahu dia kritis dan pintar. Juga terkadang menyebalkan ketika dia tahu dia benar. ‘Lalu perempuan itu ngomong apa?’ Saya tiba-tiba kasihan dengan perempuan itu. Dia pasti tidak berharap, seusai bercinta yang dihadapinya pada pagi hari justru percakapan soal keyakinan. Dan semua bermula dari sekadar bertanya apakah daging ham di roti tangkupnya terbuat dari babi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Babi mendatangkan bencana. Tidak hanya untuk keyakinannya, tetapi juga kelangsungan hubungannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dia mengedikkan bahu. ‘Entah. Saya bahkan tidak ingin dengar lagi semua alasannya. Saya tak paham orang-orang yang begini. Lebih kasihan lagi keimanannya hanya sebatas daging babi itu.’ Sejak pagi itu, ia berhenti mengencani perempuan yang menolak makan daging babi atas nama agama, tetapi tidak keberatan tidur dengannya.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Itu artinya mengakali agama, kata dia yang atheis.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;SEJAK percakapan itu, kami bertemu beberapa kali, dia sempat mengundang saya ke pesta ulang tahunnya yang hanya selisih sehari dengan saya. Bisa ditebak, saya tidak datang. Pertemuan lainnya terjadi, dan saya hanya melambaikan tangan, tidak berniat menghampiri atau duduk dan berbicara. Sampai satu ketika dia menghentikan langkah saya di pintu lab dan memberitahu kalau dia akan pulang ke negaranya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Why&lt;/em&gt;?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;It’s time to go home.&lt;/em&gt;’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya berkelakar dia akan merindukan Indonesia dan perempuan-perempuannya. Dia tertawa dan membenarkan. ‘Tapi sepertinya, sebelum pulang, saya akan buat satu tato yang mengingatkan saya kepada Indonesia.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya lalu memberitahu dia tentang &lt;em&gt;tattoo artist&lt;/em&gt; yang bisa menato dengan cara tradisional, menggunakan bambu. Desain tatonya pun bisa dipilih berdasarkan motif-motif &lt;em&gt;body painting&lt;/em&gt; khas daerah-daerah di Indonesia. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kamu punya alamatnya?’ Saya mengangguk lalu berjanji mengirimkan alamat itu ke emailnya. ‘Eh, bagaimana kalau kamu menemani saya ketika ditato?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Sudah lama saya ingin melihat penatoan dengan cara tradisional. ‘Apa ongkos saya menemani kamu?’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Saya pikir, saya tak keberatan menghabiskan sepanjang malam bareng kamu sambil mengobrol dan ngebir.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya pun mengiyakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya tak pernah menemaninya ke tukang tato dan tak pernah duduk sambil ngebir hingga larut malam setelah dia ditato. Kami bahkan tak pernah bertemu lagi sejak itu.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Semuanya tinggal janji yang bahkan tak pernah coba kami berdua penuhi.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya lupa tentang dia. Teman-teman saya masih berhubungan dengan dia lewat facebook, sementara saya dan dia bahkan tak saling mengukuhkan pertemanan kami lewat jaringan media sosial yang satu ini. Kami—saya pikir, memilih melupakan satu sama lain.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Hingga e-mail dari dia masuk ke e-mail saya. Menyapa dengan gaya slengekan seperti biasanya. Kembali percakapan-percakapan kami terjadi. Obrolan tentang ini-itu. Kemudian saya tahu, dia belum ke &lt;em&gt;tattoo artist &lt;/em&gt;yang saya sebutkan. ‘&lt;em&gt;I think I still hope that one day I will go to the tattoo artist with you.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;I really want to know what’s gonna happen between us on that day. What will we talk, what will we do all night? Have you ever thought about it? I really really want to know&lt;/em&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;’ tulisnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya pun sama. Saya penasaran, apa yang akan terjadi bila kami benar-benar melakukan hal itu. Selama beberapa hari kami terlibat percakapan intents lewat BBM. Dia sempat ke Jakarta sebentar, sayangnya saat itu saya sedang berada di Ubud, Bali. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Lagi-lagi kami tak bertemu. Dan sekali lagi, kami saling melupakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;DUA hari yang lalu, ketika sedang menahan kantuk seusai menjadi pembicara di sebuah workshop penulisan di Balikpapan, sebuah pesan masuk ke BBM saya. saya mengerenyit. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Hey, punk&lt;/em&gt;!’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya tak segera membalas. Coba mengingat-ingat, siapa pemilik nama itu. Sialnya, saya tak mengenali sama sekali pengirimnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Sorry, wrong punk. Haha&lt;/em&gt;!’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya bahkan tak mengingat namanya. &lt;em&gt;Profil picture&lt;/em&gt;-nya bergambar seorang anak kecil. Saya tak ingat punya teman beranak bule. Jadi saya hanya membalas dengan, ‘…’ .&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Jawaban segera masuk ke BBM saya. Dia bertanya apa kabar, apakah saya sudah memiliki tato baru, apakah saya masih berada di Bali, apa yang saat ini sedang saya lakukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya baru sadar, itu dia! Ingatan saya memanggil semua potongan-potongan percakapan terakhir yang kami bicarakan lewat BBM sewaktu saya masih tinggal di Ubud dan dia datang ke Jakarta.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kami bertukar kabar. Bercerita kembali ini-itu. Lalu dia memberitahu satu hal yang tak pernah saya mau tahu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dia hanya ingin memberi tahu dan merasa perlu memberi tahu bahwa dia menyukai saya. Sekadar memberi tahu. ‘Seandainya sedari awal saya sudah memberi tahu kamu tentang apa yang saya rasakan. Seandainya kondisi saya saat ini berbeda, saya pasti sudah mengejar kamu sampai dapat.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Untuk menutupi keterkejutan, saya membalas dengan bercanda, mengatakan bahwa keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘&lt;em&gt;Or… not yours&lt;/em&gt;! Haha!’ Dia membalas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Dalam hati saya menjawab, memang saya yang tidak beruntung.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perempuan yang dikencaninya hamil. Sekalipun dia tidak percaya kepada lembaga pernikahan, dia bertanggung jawab penuh atas perempuan itu. Mereka kini hidup berdua di negara asalnya. Anak kecil yang ada di profil picture BBM-nya adalah anak lelakinya bersama perempuan itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya senang dia bukan lelaki bajingan yang tidak bertanggung jawab.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Kamu tahu, saya suka kamu dari pertama kali melihat kamu. Harus diakui ketertarikan awal adalah masalah fisik. Tapi, semakin ngobrol, semakin saya tahu, saya tidak hanya tertarik dengan kamu karena fisik.’&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Saya tak mau tahu itu. Tak ada lagi bedanya buat saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;‘Too much?’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Nope. Thanks for being very honest.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘I should tell you. I should. But now, I am having my family here. I love my son. And I think I should take care of his mother too.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘You should.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;‘Should tell you or should take care of her?’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Saya tidak mau tahu. Sudah tidak ada bedanya lagi buat saya. ‘&lt;em&gt;You should take care of your son and his mom.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dia tidak segera merespons jawaban saya. Saya pikir, dia tidak akan membalasnya. Saya keliru. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;‘Have you ever been attracted to me? I always think that we can be a perfect couple.’&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pengakuannya tak akan mengubah apa pun. Saya tak tahu, apa gunanya saya tahu ketika semua sudah terlambat. Saya bukan dia. Saya memilih tak memberi tahu bahwa dia tak bertepuk sebelah tangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;Kenyataannya, kami pasangan yang sempurna hanya pada tataran ‘&lt;em&gt;I think&lt;/em&gt;.’ &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;JADI, apa gunanya saya tahu bila semua telah terlambat? Saya pikir, kami hanya dua orang bodoh yang berusaha mengakali perasaan. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-tab-span"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Lesson learned. &lt;/em&gt;[13]&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;*)photo taken by @windyariestanty, location: seoul, korea.&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37775376795</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37775376795</guid><pubDate>Wed, 12 Dec 2012 13:54:00 +0700</pubDate></item><item><title>I Create You</title><description>&lt;p&gt;love the poem, iru! :) &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;a class="tumblr_blog" href="http://mrshouse.tumblr.com/post/37733869244/i-create-you"&gt;mrshouse&lt;/a&gt;:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;In the name of apple&lt;br/&gt; You kiss red&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;In the name of fable&lt;br/&gt; You tear stories&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;In the name of riddle&lt;br/&gt; You’re solved&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;In the name of people&lt;br/&gt; You live&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37773781338</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37773781338</guid><pubDate>Wed, 12 Dec 2012 13:14:42 +0700</pubDate></item><item><title>

Neil Gaiman’s Advice to Aspiring Artists

</title><description>&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo1_r1_250.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo2_r1_250.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;img src="http://24.media.tumblr.com/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo7_r1_250.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;img src="http://24.media.tumblr.com/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo9_r1_250.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;img src="http://24.media.tumblr.com/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo10_r1_250.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo8_r2_250.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/a3cbc410afc9408f727171781fe8d2ab/tumblr_memr5zGTqF1r2f9ceo12_r1_500.gif"/&gt;&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;blockquote&gt;
&lt;div&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&amp;v=_6Vpl8JoIiY"&gt;Neil Gaiman’s Advice to Aspiring Artists&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37631022342</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/37631022342</guid><pubDate>Mon, 10 Dec 2012 17:54:43 +0700</pubDate></item><item><title>still love the sketch. :) </title><description>&lt;img src="http://24.media.tumblr.com/tumblr_mau3axClmB1qc9ey0o1_500.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;still love the sketch. :) &lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/36650214719</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/36650214719</guid><pubDate>Tue, 27 Nov 2012 12:46:47 +0700</pubDate></item><item><title>love the sketches!</title><description>&lt;img src="http://25.media.tumblr.com/tumblr_mck3ujbPJ11qerbano1_500.jpg"/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;p&gt;love the sketches!&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/36650184691</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/36650184691</guid><pubDate>Tue, 27 Nov 2012 12:46:12 +0700</pubDate></item><item><title>pemenang turnamen foto perjalanan – ronde 7: hello, human!</title><description>&lt;p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;70 foto,&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;70 cerita,&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;dari 70 manusia&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;untuk ronde ke 7 ‘turnamen foto perjalanan’.&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;sebuah bidikan manusia yang jeli melihat cerita, yang membuat terkenang kepada kebutuhan ‘rasa’ sebagai manusia: diterima dan menerima.&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;manusia mampu menerima jika ia pun merasa diterima, lewat pertemuan, persinggungan, dan percakapan. yang mungkin berawal dari sekadar ingin berbincang menghabiskan waktu.&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;lewat sebuah hubungan dengan manusia-manusia lain yang disebut &lt;em&gt;teman&lt;/em&gt;&amp;#8212;&lt;em&gt;friends&lt;/em&gt;. yang membuat manusia mengenal dan belajar arti berbagi.&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;inilah dia pemenang ‘turnamen foto perjalanan – ronde 7’: ‘&lt;strong&gt;that&amp;#8217;s what friends are for: to chit chat and share’&lt;/strong&gt; hasil bidikan &lt;a href="http://www.jalan2liburan.com/" title="jalanjalanliburan" target="_blank"&gt;@jalan2liburan&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;img src="http://media.tumblr.com/tumblr_me3qsdzEyg1r1kty2.jpg"/&gt;  &lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;selamat!&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;memang itu guna berteman. untuk berbagi banyak hal, seperti yang kita lakukan lewat &amp;#8216;&lt;a href="http://www.duaransel.com/turnamen-foto-perjalanan-traveler-indonesia/" title="turnamen foto perjalanan" target="_blank"&gt;turnamen foto perjalanan&lt;/a&gt;&amp;#8217; ini.&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;terima kasih sudah menjadi teman.&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;tabik,&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;@windyariestanty - tuan rumah &amp;#8216;&lt;a href="http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/35701697368/turnamen-foto-perjalanan-ronde-7-hello-human" title="turnamen foto perjalanan ronde 7" target="_blank"&gt;turnamen foto perjalanan - ronde 7: hello, human&lt;/a&gt;!&amp;#8217;&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/36595179362</link><guid>http://windy-ariestanty.tumblr.com/post/36595179362</guid><pubDate>Mon, 26 Nov 2012 23:04:39 +0700</pubDate></item></channel></rss>
