~13~

a home where sweet and bitter can be together

57 notes &

cinta yang meluaskan


Kau bosan bicara cinta?

Malam ini, kita tidak akan bicara cinta yang itu-itu saja. Kita akan bicara cinta yang menguatkan. Yang juga mengenalkan kau pada rasa marah dan kecewa. Dan tentu saja, cinta yang mengizinkanmu bertemu dengan rasa sedih dan takut kehilangan. Oh, juga rasa sakit.

Kenapa?

Aku mulai merasakan kecemasanmu. Ah, kau selalu dipenuhi rasa cemas tak beralasan. Bukankah sudah berkali-kali kubilang. Tak ada yang perlu kau cemaskan. Hidup memang dirancang seperti ini. Seperti dadu yang dilempar dan kau menunggu angka pada sisi yang mana akan terbuka. Itu menariknya hidup. Kau tak tahu apa yang akan terjadi. Bahkan ketika sesuatu telah ada di genggaman, itu pun tak menjamin apa pun. Ia bisa pergi meninggalkanmu, persoalannya hanya kapan.

Jadi, jangan meminta yang pasti. Namun, berilah sebanyak yang pasti kaubisa berikan. Kautahu benar, segala hal yang kaupilih akan mengantarkanmu bertemu hal lain. Bila kali ini kau bertemu dia maka memang kau harus bertemu dia. Belajar sesuatu dari dia. Merasakan sesuatu dari dia. Saat ini, dia gurumu. Dia yang menjadi mata pelajaranmu.

Sudah seberapa jauh kaupergi?

Bolehkah aku jujur? Kau masih ragu-ragu melangkah. Aku merasakan kecemasanmu. Ketakutanmu. Kebimbanganmu. Kau takut, kau gelisah, tepatnya. Ini terlalu mengejutkan untukmu, bukan?

Apa yang kau takutkan? Apa yang kau gelisahkan?

Biar kutebak. Kau takut menyakiti. Dan di sisi yang lain, kau takut bila terlalu menginginkan. Kau takut bila pada akhirnya, kau tak mendapatkan apa yang sudah terlanjur kau maui.

Aku mengenal setiap jengkal dari dirimu. Tak mendapatkan apa yang kauharap rasanya sangat menyebalkan. Kau tak menyukai rasa itu. Padahal, sedari dulu kubilang, kau tak diciptakan untuk jadi lemah. Kau lebih dari yang kautahu. Sakit yang kau alami adalah kekuatanmu untuk menjadi lebih tangguh. Kemarahan yang kau pendam adalah amunisi yang membuatmu lebih mawas. Kekecewaan yang kau rasakan adalah penanda dalam diri agar tak melakukan hal yang sama kepada yang lain. Bahkan tangis yang diam-diam kaususut, adalah energi mahadashyat yang membuatmu bangkit. 

Namun, ada saat di mana kau harus berserah. Melepaskan semua. Mengizinkan dirimu meringkuk dan menangis tanpa ditahan. Kita pernah melakukannya bersama-sama bukan? Aku masih ingat. Kau benamkan seluruh wajahmu ke balik bantal. Tangismu pecah tanpa suara. Aku tahu, kau merindu rasa yang muncul seusai isakmu: lega. 

Ya, sudah lama kau tak merasa lega. Kau bahkan membiarkan aku merengkuhmu.  Aku akan selalu merengkuhmu. Selalu. 

Kau pernah bertanya, kenapa kau perlu mengenal ragu?

Meragu memang sifat manusia. Kau perlu itu untuk paham apa yang disebut yakin. Tapi ketika ragu menguasaimu, kau melenyapkanku. Bimbangmu meniadakan keberadaanku. Membuat kau dan aku menjadi seolah berjarak. Padahal aku begini dekat. Tak seujung kuku pun meninggalkanmu.

Gamamgmulah yang justru melenyapkan dirimu sendiri.

Tunggu! Jangan potong pembicaraanku. Kali ini saja, di antara kungkungan udara yang terasa gerah karena suhu tubuhmu yang kian panas dan napas putus-putus yang memburu karena pengap malam ini, dengarkan aku. Anggap saja aku sedang menceritakan sesuatu untuk membuatmu terlelap. Besok kau akan baik-baik saja. Aku janjikan itu kepadamu. Kau akan baik-baik saja. Suhu tubuhmu akan kembali seperti sediakala. Besok, kau akan sudah sanggup berlari di antara rumput ilalang itu untuk mendengar desau angin. Bunyi yang kausuka. Kau bahkan sanggup berjalan dengan langkah yang seolah terbang pada jalan menanjak di bukit itu. Percayalah kepadaku. Aku tak pernah membohongimu. Tidak sekalipun.

Tapi ya, malam ini, malam ini memang dimaksudkan untuk kau hening. Untuk pertemuan kita. Kau tak menduganya bukan? Padahal, aku sudah memanggilmu. Membisikkannya lewat angin. Menitipkan kata lewat mulut yang lain. Sesekali kau sadar. Aku tahu itu. Namun, seperti yang kuduga, kau pandai mengulur waktu pertemuan. 

Kau sudah terlalu lama tak berbicara dengan aku dan dirimu sendiri. Maaf. Tubuhmu yang sakit hanya alasan yang kubuat agar kaupunya waktu untukku.

Aku merindukanmu. Rindu membuat aku harus menemukan cara untuk menjumpaimu. Perlu melemahkanmu untuk membuat kau meringkuk dalam pangkuanku. Sebegitu tangguhnya kau hingga aku pun perlu mencipta taktik. Tapi itu yang aku suka darimu: ketangguhan di balik tubuhmu yang bahkan tak memiliki liat otot.

Malam ini, aku harus memintamu diam dan menghabiskan gelap bersamaku. 

Ini percakapan kita yang kesekian. Ini malam-malam panjang kita yang entah keberapa kali. Dan kau tetap seperti engkau yang kukenal dulu. Dalam rupa apa pun dirimu, aku selalu akan bisa mengenalimu. Entah di masa yang mana, entah di raga beraneka rupa.

Aku akan selalu menemukanmu. Kita akan selalu saling menemukan.

Malam ini, izinkan aku kembali hadir di ruang paling pribadimu. Yang kau pilih dengan cermat, siapa saja yang diizinkan ada di sana.

Jadi, apa yang kau cemaskan tentang cinta?

Perjalanan ini memang dibuat untukmu. Sekian lama kau berjalan dan akhirnya kau sampai di sini. Berapa lama kau merasa ada suara-suara yang terus memanggilmu untuk datang ke tempat ini?

Kau mengabaikannya! Aku tahu itu. Seperti yang sudah kubilang, kau paling pandai bersikap dingin. Kau memang dilengkapi dengan keahlian yang satu itu. Bahkan, butuh melintasi ratusan masa, berapa kali kelahiran, untuk kau pun kembali bersikap hangat kepadaku. Untuk kau mengingatku.

Tapi aku tak pernah lupa. Aku menunggumu. Aku selalu di tempat yang sama. Seperti janjiku. Lupamu memang adalah proses menuju ingat. 

Dan seperti Itulah cinta yang bukan itu-itu saja.

Seberapa menyakitkannya, kau tak bisa mengabaikannya. Seberapa pun kau berjalan menjauh, kau akan selalu kembali. Mungkin kau perlu berputar. Mungkin kau perlu menghindar. Tapi, pada akhirnya kau akan sadar. 

Cinta itu menggenapkan. Cinta itu membuat kau memiliki semua alasan untuk hal paling tidak masuk akal sekalipun, bahkan yang belum kau ketahui.

Apakah kau akan bertemu kecewa karena cinta?

Tentu iya. Cinta akan membuatmu mengenal banyak rasa. Tak hanya bahagia, penuh, dan terpuaskan. Tapi kau akan berkenalan dengan ‘macan’ dalam dirimu. Beberapa orang menyebutnya Kemarahan. Kekecewaan. 

Nah! Aku mulai merasakan kecemasanmu lagi. Tenanglah. Ini tidak menakutkan.

Seberapa pun besar ‘macan’ itu di dalam dirimu, cinta tidak akan sanggup membuatmu membenci. 

Awalnya kau akan menduga, cinta akan membuatmu sanggup membenci. Itu logika yang jamak. Kau akan sesaat tersesat di sini. Siapa pun pernah terjebak di rasa ini. Tapi tidak. Cinta yang ini tak akan sanggup membuatmu membenci. Ia mengizinkanmu marah dan kecewa. Dan kerap kali dengan gegabah disebut benci.

Lalu, kau akan berpikir, kau tak lagi mencintainya. 

Ya, kau ada di fase ini sekarang. Tapi, bersiaplah. Ini adalah saat kau memasuki fase yang lebih besar. Ini kelas berikutnya. Yang kusiapkan untukmu. Kau akan melihat dengan lebih jernih, ternyata kau tetap mencintai apa yang kauduga sudah tak kau cintai. Hanya saja, cinta itu bertransformasi. Menjadi bentuk yang lain. Menjelma jadi rasa yang berbeda.

Tapi, dasarnya tetap cinta.

Cinta yang ini mengizinkanmu mencintai dengan banyak cara. Bukan yang itu-itu saja. Ia mengajarimu berkata tidak. Ia menuntunmu untuk bertemu penolakan. Ia juga membiarkanmu berlaku tak manis. Ia memberimu banyak cermin untuk melihat.

Ia mengajakmu menjadi diri sendiri tanpa mencemaskan apa pun.

Untuk memahaminya, kau harus mengenal semua rasa itu. 

Bahkan, pada satu masa, cinta yang ini akan mempertemukanmu dengan kehilangan. Dan bila saat itu, tiba, aku tahu kau tak akan baik-baik saja. Aku tahu kau akan kesakitan. Tapi aku harus membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian. Seperti beberapa belas tahun lalu.

Meregang. Mengerang. Kau akan mencaciku. Aku sudah bersiap untuk itu.

Dalam titik paling tak berdayamu, aku ingin kau tak melupakan ini. Itu adalah saat kelahiranmu kembali. Sakitmu adalah terapi melawan lupamu.

Jangan kau hindari. Rangkul rasa sakitmu. Sebab, itu cinta yang akan mematangkanmu. Cinta yang membuatmu sanggup memberi lebih. Cinta yang meluaskanmu.

Dan aku tahu kautahu itu. Kau lebih dari sekadar tahu.

Sekarang, tidurlah yang lelap. Besok, sebelum matahari terbit dan sinarnya membangunkanmu, kau kembali semula. Tertawalah yang lepas. Aku rindu mendengar tawamu yang bergemerincing dibawa angin.

Aku mencintaimu. Jangan pernah lupa itu.


Ubud, 13 Februari 2012

*) image: a slice of white moon on the morning sky. location: bukit, ubud. taken by @windyariestanty


  1. heyavala reblogged this from windy-ariestanty
  2. rstmrslly reblogged this from windy-ariestanty
  3. dinimarsellia19 reblogged this from windy-ariestanty
  4. lailinoor reblogged this from windy-ariestanty
  5. almondchocolicious reblogged this from windy-ariestanty
  6. pramoe reblogged this from dbrahmantyo and added:
    Belajar dari apapun, termasuk merelakan.
  7. nikiananda reblogged this from windy-ariestanty
  8. chiemayindah reblogged this from windy-ariestanty
  9. patinefritte reblogged this from windy-ariestanty
  10. nidyaferry reblogged this from windy-ariestanty
  11. thoughtwords reblogged this from windy-ariestanty
  12. aysenayaksiv reblogged this from windy-ariestanty
  13. asrisrahmi reblogged this from windy-ariestanty
  14. inidini reblogged this from windy-ariestanty
  15. alifpribadi reblogged this from allohayona
  16. allohayona reblogged this from windy-ariestanty
  17. mpurinwonderland reblogged this from windy-ariestanty and added:
    Kau bosan bicara cinta?
  18. rizkafaiza reblogged this from windy-ariestanty and added:
    Dalem ya :|
  19. anisaanwar reblogged this from windy-ariestanty
  20. esemu reblogged this from windy-ariestanty
  21. katamajemuk reblogged this from windy-ariestanty
  22. mayrani reblogged this from windy-ariestanty
  23. destiputri reblogged this from windy-ariestanty
  24. dbrahmantyo reblogged this from windy-ariestanty
  25. nadirabkpaooo reblogged this from dhilarns
  26. dhilarns reblogged this from shintapakpahan
  27. renalourenaaa reblogged this from windy-ariestanty
  28. anotherdidhurt reblogged this from windy-ariestanty
  29. ikalarai reblogged this from windy-ariestanty
  30. shintapakpahan reblogged this from windy-ariestanty