~13~

a home where sweet and bitter can be together

17 notes &

lari

image

Saya sebenarnya tak pernah suka lari. Tapi, banyak hal yang membuat saya terus berlari.

Saya menduga, pasti ada yang akan menyeletuk dan berkata, ‘Lari dari kenyataan?’ Atau kalau kata karib saya Wandi, ‘Lari dari kenyataan percintaanmu yang absurd?’

Sayangnya, bukan itu. 

Sejak duduk di bangku SD sampai SMA, anehnya saya melulu dikirim sekolah untuk mengikuti lomba lari. Saya berlari untuk dua nomor pertandingan: jarak pendek dan jarak jauh. Saya jarang berlari pada jarak menengah. Saya tak tahu kenapa oleh guru saya, saya selalu didaftarkan di dua nomor pertandingan itu. Kata guru saya, saya orang yang harus cepat sekali secara waktu atau panjang sekali secara jarak. Dia bilang, saya kontradiktif. Saya bilang, saya hanya tak suka berada di tengah.

Di sekolah dan di kelas, saya bukan satu-satunya pelari tercepat. Akan tetapi, bila ada lomba lari atau ujian lari di sekolah, saya tak pernah keluar dari tiga besar. Sebenarnya, bukan karena saya suka berlari lalu saya bisa melesat cepat, melainkan lebih karena saya tak suka tertinggal.

Saya kompetitif. Tidak hanya terhadap orang lain, bahkan terhadap diri saya sendiri.

Read more …

28 notes &

di atas malam-sebelum pagi: yang tercecer dari waisak

image

‘Ketidaksadaran memang jauh lebih mengerikan daripada ketidaktahuan,’ suara itu menyusup ke gendang telinga bersamaan dengan rasa sakit yang menikam ulu hati saya. Sontak tubuh saya menggigil, bukan karena hujan yang kian menderas, melainkan untuk perasaan yang tak asing ini.

***

Akhirnya, kau tiba di sini. Aku menunggumu.

Saya menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengenyahkan suara itu. Ini bukan saat yang tepat. Saya sedang tidak bersiap. Nyeri kembali menyerang lambung. Gigi saya bergemeletuk, mengunyah tergesa obat maag berbentuk tablet yang diberikan tenaga medis barusan.

‘Beri jalan, beri jalan! Anak ibu ini sakit!’ teriak lelaki berbaju putih yang berjaga di sisi luar tenda. Saya menepi, menyelip di sela tubuh-tubuh lain yang juga berada di tenda ini karena alasan yang sama—jatuh sakit.

‘Tak ada lagi ruang!’ sahut tenaga medis yang tadi memberi saya obat. ‘Hanya anaknya yang bisa masuk. Minta si ibu menunggu di luar. Di sini butuh udara segar, banyak yang pingsan,’ sambungnya.

Read more …

3 notes &

brrrmmm! an harajuku pretty woman riding her blue motorcycle on the most extreme teenage cultures and fashion styles street in tokyo, japan: harajuku. harajuku refers to the area around tokyo’s harajuku station, which is between shinjuku and shibuya. 
photo taken by @windyariestanty using iphone4.

brrrmmm! an harajuku pretty woman riding her blue motorcycle on the most extreme teenage cultures and fashion styles street in tokyo, japan: harajuku. harajuku refers to the area around tokyo’s harajuku station, which is between shinjuku and shibuya. 

photo taken by @windyariestanty using iphone4.

17 notes &

mencari sebuah handuk

image

Saya tak yakin, sekalipun penghuni satu jagat raya ini berbicara dengan bahasa yang sama, maka komunikasi akan baik-baik saja.

Bahasa, bagi saya, hanya perangkat komunikasi. Diciptakan untuk memudahkan kita berkomunikasi. Namun, semakin saya sering traveling, semakin saya justru melihat, menguasai atau berbicara dengan bahasa yang sama tak menjamin kita bisa memahami lawan bicara dengan baik.

Traveling mengajarkan saya, bahwa kunci utama dalam berkomunikasi adalah niat. Saya menyebut ini bahasa tertinggi makhluk hidup: niat untuk saling memahami. Bahasa ini tak memerlukan aksara, tidak juga suara. Hanya niat untuk saling memahami yang kemudian mendorong saya membuka diri terhadap siapa saja orang yang saya temui dalam perjalanan.

Read more …

29 notes &

cerita tentang angin dan kilat

image

Aku tidak tahu harus memulai kisah ini dari mana. 

Ini kisah yang terus aku simpan karena khawatir akan menyakitkan. Akan melukai. Dan membuat satu per satu dari kami berjalan pergi menjauh. Memunggungi satu sama lain.

Namun, mungkin kalian menemukan kisah ini ketika sedang membaca sebuah majalah. Entah majalah yang mana. Mungkin majalah yang cukup gila berani menerbitkannya karena sudah tak ada lagi tulisan yang bisa dibuat sehingga terpilihlah kisah ini untuk dimuat.

Tapi, aku pastikan, kalian tetap tidak akan tahu siapa kami. Juga siapa aku. Ini tetap harus menjadi rahasia. Aku tak akan memberitahumu nama tempat. Juga tak akan memberitahumu nama kami yang sebenarnya.

Aku dan mereka yang aku ceritakan sepenuhnya asing. Anggaplah aku seperti seorang yang tiba-tiba bertemu denganmu di dalam gerbong kereta api, menjadi teman seperjalanan, dan menceritakan hal ini. Kau bahkan tak perlu tahu siapa kami yang sebenarnya. 

Bersiaplah.

Ini kisah yang sangat sederhana. Tentang seorang perempuan yang jatuh cinta. Juga lelaki yang jatuh cinta. Ini kisah tentang jatuh cinta untuk pertama kali.

Tapi sesederhana apa pun sebuah cinta pertama, ia selalu istimewa bukan?

*** 

Read more …

28 notes &

kisah sebatang cokelat: sebuah rasa dari masa kecil

Waktu kecil, saya suka sekali makan cokelat. Sangat suka sehingga setiap kali ada teman papa atau mama datang, atau siapa pun yang bertamu ke rumah, kerap membawakan saya oleh-oleh berupa cokelat.

Sebatang cokelat itu saja sudah membuat saya senang.

Saya ingat, cokelat kegemaran saya waktu itu adalah Van Houten. Saya tidak tahu dengan jelas, kenapa saya begitu kecanduan merek cokelat asal Negeri Kincir Angin itu. Padahal, kalau dibandingkan dengan cokelat yang saat ini beredar di pasaran, rasanya tak ada beda.
 
image

Van Houten polos tanpa kacang mete atau raisin atau almond. Hanya cokelat. Tak perlu banyak rasa. Sebulan sekali—selain mengandalkan buah tangan tamu yang bertandang—kakek saya selalu membawa saya ke Pasar Cinde, Palembang. Itu pasar tradisional terbesar di Palembang. Segalanya ada di situ. Alat tulis, mainan, dan makanan. Pusat aktivitas Kota Palembang, sebelum kemudian pasar yang lebih modern menenggelamkannya, menggantikannya dengan aktivitas yang tak perlu mengenal tanah becek karena hujan atau bau amis ikan dan daging yang menguar.
 

Read more …

512 notes &

neil-gaiman:

mariadahvanaheadley:

BEASTS OF THE DEVIL - Maria Sybilla Merian, Lizard from “Metamorphasibus Insectorum Surinamensium”, 1705. 
Look at the date. 1705. Yes, thank you. Maria Sybilla Merian (1647-1717) was a fabulous naturalist and scientific illustrator. Everything she did was beautiful, but also odd. The above lizard, for example? 
In her time, insects, her particular interest, were viewed as “beasts of the devil”
Merian was intrigued by metamorphosis, beginning with butterflies, and moving on to life stages of insects, with a lot of side interest in lizards, and various other creatures. Her early work was often used as patterns for embroidery - but clearly, she was interested in science as well as beauty.

-  Branch of guava tree with leafcutter ants, army ants, pink-toed tarantulas, c. 1701-5
 
Daughter to Matthaus Merian the Elder, who was a noted Swiss engraver and publisher, she was also stepdaughter to Jacob Marrel, a still-life painter. Clearly, both traditions moved through her work. When she was eleven, she engraved her first copperplate for illustration.  She married her father’s apprentice in 1665, when she was 18, and had two daughters with him. (Though interestingly, she seems not to have ever changed her surname.)

- Surinam Caiman Fighting a South American False Coral Snake 1699-1703 
In 1686, she moved to the Netherlands with her mother and daughters, and in 1690 divorced her husband. 
In 1699,  the now 52-year-old Merian - having  resided in the home of the Governor of the Dutch colony of Suriname and observed his tropical specimens (I have no idea quite how this happened - was there romantic involvement? Maybe?) Merian sold most of her belongings in order to travel to Surinam with her youngest daughter Dorothea. The result was the extraordinary Metamorphasibus Insectorum Surinamensium. 
She says - rather amusingly, given her clear passion for same:




“So I was goaded to undertake a huge and costly trip, traveling to Suriname in America, a hot and humid land where swarms of insects are there for the capture.”
She spent two years in Surinam, before returning to the Netherlands due to malaria. 





After Merian’s death in 1717, her daughters continued to produce fabulous work in the entomological field. Six plants, nine butterflies, and two beetles bear her name. 

See this catalog from the Getty Museum’s 2008 Exhibition of Merian’s work. 
And more biographical information here. 


So beautiful…

neil-gaiman:

mariadahvanaheadley:

BEASTS OF THE DEVIL - Maria Sybilla Merian, Lizard from “Metamorphasibus Insectorum Surinamensium”, 1705. 

Look at the date. 1705. Yes, thank you. Maria Sybilla Merian (1647-1717) was a fabulous naturalist and scientific illustrator. Everything she did was beautiful, but also odd. The above lizard, for example? 

In her time, insects, her particular interest, were viewed as “beasts of the devil”

Merian was intrigued by metamorphosis, beginning with butterflies, and moving on to life stages of insects, with a lot of side interest in lizards, and various other creatures. Her early work was often used as patterns for embroidery - but clearly, she was interested in science as well as beauty.

image

-  Branch of guava tree with leafcutter ants, army ants, pink-toed tarantulas, c. 1701-5

 

Daughter to Matthaus Merian the Elder, who was a noted Swiss engraver and publisher, she was also stepdaughter to Jacob Marrel, a still-life painter. Clearly, both traditions moved through her work. When she was eleven, she engraved her first copperplate for illustration.  She married her father’s apprentice in 1665, when she was 18, and had two daughters with him. (Though interestingly, she seems not to have ever changed her surname.)

image

Surinam Caiman Fighting a South American False Coral Snake 1699-1703 

In 1686, she moved to the Netherlands with her mother and daughters, and in 1690 divorced her husband. 

In 1699,  the now 52-year-old Merian - having  resided in the home of the Governor of the Dutch colony of Suriname and observed his tropical specimens (I have no idea quite how this happened - was there romantic involvement? Maybe?) Merian sold most of her belongings in order to travel to Surinam with her youngest daughter Dorothea. The result was the extraordinary Metamorphasibus Insectorum Surinamensium. 

She says - rather amusingly, given her clear passion for same:

“So I was goaded to undertake a huge and costly trip, traveling to Suriname in America, a hot and humid land where swarms of insects are there for the capture.”

She spent two years in Surinam, before returning to the Netherlands due to malaria. 

page1image10736
page1image11008
After Merian’s death in 1717, her daughters continued to produce fabulous work in the entomological field. Six plants, nine butterflies, and two beetles bear her name. 
And more biographical information here

So beautiful…

4 notes &

cherokee, perjalanan kembali ke masa lalu

“Welcome… I will tell you a story. A very old story….”

KALIMAT itu diucapkan oleh seorang lelaki tua Indian. Ia tiba-tiba muncul di hadapan saya yang tengah berdiri di depan api unggun, di sebuah gua kecil. Lelaki itu mengenakan pakaian tradisonal Indian yang terbuat dari kulit binatang dan tanaman rami. Tangan kanannya memegang tongkat. Matanya yang tajam, lurus menatap ke arah saya.

Ia bercerita pada saya, tentang sebuah legenda yang telah hidup beratus-ratus tahun lalu. Legenda suku Indian, penduduk asli Amerika. Suara beratnya terdengar bijak ketika bertutur. “After this, you will know who the Cherokee are…,” kemudian ia melangkah pergi. Perlahan, nyala api unggun pun meredup. Dan gua itu kembali gelap. 

image

Read more …

14 notes &

A Journey Called Life

katakatabana:

image

June 28 - Banyak penyebab kita melakukan sebuah perjalanan. Mungkin karena tugas, mengunjungi teman atau kerabat, sekedar melepas penat, atau mencari sesuatu. Ya, mencari sesuatu, entah yang kita sudah mengetahui apa yang kita cari ataupun belum. Sedikit banyak, hal itulah yang tertuang dalam travelogue karya penulis Windy Ariestanty, Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan. Sebuah buku yang saya dapatkan dari seorang sahabat dalam sebuah perjalanan pulang dari Jogjakarta.

Life Traveler
Windy Ariestanty, seorang editor pada grup penerbit GagasMedia, menuliskan pengalamannya dalam melakukan perjalanan ke berbagai tempat di seluruh dunia. Tercatat setidaknya 10 negara dan 3 benua masuk dalam travelogue ini. Mulai dari perjalanan di Indochina (Malaysia, Vietnam, Kamboja, Thailand), Eropa (Jerman, Swiss, Belanda, Rep. Ceska, Perancis), hingga Amerika Serikat; semuanya tertuang secara rinci. Layaknya travelogue lainnya, Life Traveler memuat banyak tips dan juga informasi tempat-tempat yang harus dikunjungi oleh pelancong jika mampir ke negara-negara yang disebut di atas. Dilengkapi foto-foto dan beberapa ilustrasi berupa lukisan, buku ini terasa begitu hidup, dan menghadirkan pengalaman kepada pembacanya serupa dengan yang dirasakan Windy saat berada di tempat-tempat tersebut. Namun, bagi saya sendiri, yang membuat travelogue ini memiliki nilai lebih adalah, tidak hanya memberikan informasi akan tempat-tempat yang dikunjungi, Windy pun memasukkan pelajaran-pelajaran hidup yang didapatnya dari perjalanan tersebut. Kemampuan Windy dalam mengamati dan berinteraksi dengan manusia-manusia di perjalanannya, itu yang menjadi titik penguat travelogue ini. Tentang konsep pulang, rumah, pencarian, dan konsep persahabatan; semuanya terangkum manis, mengalir, terasa hangat dan dekat dengan saya sebagai pembaca. Banyak dari bagiannya menjadi pengingat bagi saya akan kehidupan saya sendiri.

Read More

thank you for reading life traveler and spending your time to write this review.